10/04/15

Review Filosofi Kopi - Bukan Sekedar Film, Tapi Juga Harapan


“Gue gak pernah bercanda soal kopi.”

Ben berulang kali mengucapkan kalimat itu di dalam film Filosofi Kopi. Film yang diadaptasi dari novel seorang penulis cerdas, Dewi Lestari, atau lebih dikenal dengan nama penanya, Dee.

Apa yang special tentang film Filosofi Kopi, sehingga gue menuliskan review-an film ini di blog whateverbackpacker.com, blog yang gue khususkan untuk cerita-cerita perjalanan backpacking gue. Jawabannya simple, gue adalah penggemar tulisan-tulisan dari Mbak Dee. Gue adalah pecinta kopi. Dan gue adalah seorang pemilik sebuah kedai kopi di Bandung yang sangat berekspektasi besar terhadap Filosofi Kopi. Terhadap film Filosofi Kopi.

Dan Filosofi Kopi akan menjadi postingan tentang review film pertama, terakhir dan satu-satunya di whateverbackpacker.com. Jadi, selamat menikmati tulisan gue tentang Filosofi Kopi.

Sejak pertama kali membaca bukunya, Filosofi Kopi menjadi salah satu “kisah” yang udah gue tunggu-tunggu untuk menjadi sebuah karya visual berbentuk film. Nah, di postingan kali ini, gue akan memberikan penilaian pribadi gue tentang film Filosofi Kopi. Karena ada beberapa sudut yang akan gue ceritakan, Review-an tentang Filosofi Kopi akan gue bagi menjadi 3 sudut pandang:

Gue sebagai pembaca dan penulis.

Gue sebagai pecinta kopi.
 
Dan gue sebagai pemilik kedai kopi.

So, here we go..
SILAHKAN DIBACA LANJUTANNYA KAKAK >>>

22/03/15

Tanjung Lesung - Menyelamatkan Kewarasan Sejenak



Sebelumnya, yang gue tau dari Pandeglang, Banten dan sekitarnya itu cuma dua hal. Seni bela diri Debus dan walikota Banten, Ratu Atut yang berkosmetik tebal. Gak ada yang lain. Sampai akhirnya, pekan kemarin, di tengah kesibukan bisnis gue (Cieee.. sok bisnis lu, Dis!)

Ehem..

Sampai akhirnya, pekan kemarin, di tengah kesibukan bisnis gue (Cieee.. sok bisnis lu, Dis!)

Ehem..

Ini apaan banget, sih!

Jadi, akhir pekan kemarin, gue bersama travel blogger, instagramer dan orang-orang media diundang oleh PT Banten West Java Tourism Development (BWJ) selaku anak perusahaan PT Jababeka Tbk yang mengelola Tanjung Lesung dalam acara 'Travel Blogger Visit to Tanjung Lesung' 12-14 Maret 2015, kami berkesempatan untuk mengunjungi Tanjung Lesung dan menikmati pesona alamnya. Buat gue, ini perjalanan yang lumayan bisa ngilangin stress gue sejenak dari kesibukan bisnis. (Cieee.. sok bisnis lu, Dis!)

Ternyata, Tanjung Lesung bukanlah saudara dari Tanjung Puting, apalagi Tanjung Perak. Tepi laut. Siapa suka. Boleh ikut.

Anjis, tulisan gue gak jelas gini.

Okay, kita mulai serius.

Buat kalian yang belum tau, Tanjung Lesung berada di Labuan, Pandeglang. Berjarak 180km, dengan menggunakan Bus dari jakarta, kami hanya memerlukan waktu tidak lebih dari 5 jam saja untuk mencapai sana. 


Begitu sampai di gerbang masuk Tanjung Lesung, kita bakal disambut oleh ratusan pohon-pohon rindang dan sawah-sawah yang luas banget. Rasanya aneh mengingat beberapa jam yang lalu gue masih ada di Ibu kota dengan kesibukannya yang bikin gue tambah stress. (Cieee.. sok stress lu, Dis!)

Ehem..

Sesampainya di Tanjung Lesung Beach Hotel, tempat kita akan menginap 2 malam ke depan, kita disambut oleh`orang-orang bercelana kolor dengan rok daun kelapa, dan mereka bertelanjang dada. Gue sempet bingung ini orang-orang pada kenapa, apa ini tempat rehabilitasi orang yang terganggu kejiwaannya? Apa gue diajak ke sini karena gue sudah terlalu stress dengan kesibukan bisnis gue? (Ciee, sok binis lu, Dis!)

Ternyata nggak, mereka berpakaian seperti itu untuk menyambut kedatngan kita dengan cara menari hula-hula ala Hawaii sembari mengajak kita untuk ikut berdansa. So much fun!


Setelah pegal-pegal karena kelamaan di bus, akhirnya gue masuk ke dalam Tanjung Lesung Beach Hotel. Dengan luas 1500 Hektar, Tanjung Lesung memiliki banyak tempat dan kegiatan yang bisa dieksplor. Apa aja itu? Ntar, gue cerita di postingan berikutnya, yak!
SILAHKAN DIBACA LANJUTANNYA KAKAK >>>

23/02/15

Mochamad Takdis: Berawal dari Traveling hingga Jadi Entrepreneur - Tulisan Dari Jesha Vebrattie

Aku yang merem saja :(

Kamu suka jalan-jalan? Hobi traveling? Bagus! Ternyata traveling bisa mendatangkan banyak manfaat bagi diri kita lho, Updaters. Kegiatan ini memang paling ampuh mengusir rasa jenuh. Bahkan bagi sebagian orang, traveling berhasil membuka mata mereka untuk menentukan jalan hidup yang harus mereka pilih. Begitu pula yang dirasakan oleh Mochamad Takdis (@takdos). Beberapa waktu lalu, pria yang akrab dipanggil Adis ini berbagi pengalamannya soal traveling ala backpacker dengan Kampus Update di kafe Whatever Restore, Bandung.


Uniknya, ketertarikan Adis dalam dunia traveling bermula dari insiden ketinggalan pesawat menuju Vietnam. “Trigger gue netapin mau backpacking itu pas gue ke Kalimantan Timur. Tadinya gue pengen ke Vietnam, cuma pesawatnya keburu take off. Akhirnya gue impulsif, beli tiket kemana aja yang paling murah. Waktu itu adanya ke Balikpapan dan naik Garuda, yaudah gue ke situ. ” Alhasil, hari itu juga Adis berangkat menuju Bandara Sepinggan, Balikpapan. Selama 15 hari menjelajahi Kalimantan Timur, Adis telah merasakan bahwa masyarakat di sana tidak seperti yang diberitakan oleh media. Sebaliknya, ia menemukan kearifan lokal yang tidak akan pernah bisa dirasakan di kota-kota besar.

Setiap kali pergi traveling, Adis selalu bertekad untuk membawa pulang sesuatu yang berharga dari perjalanannya. “Traveling itu kan sebenarnya buang-buang duit, yah. Tapi gimana caranya biar lo bisa dapat sesuatu, entah itu berupa materi atau non-materi dari traveling.”  ujar Adis. Setelah bepergian, Adis selalu menyempatkan diri untuk menulis catatan perjalanannya di blog pribadinya, yaitu www.whateverbackpacker.com. Dalam blog tersebut, Adis juga memberikan tips dan trik buat para backpacker yang ingin bepergian dengan budget minim. Mulai dari tips mencari tiket pesawat dengan harga super murah sampai tips untuk menginap di bandara! Dengan gaya tulisan Adis yang konyol dan menghibur, serta informasi seputar backpacking yang anti-mainstream, traffic blog Adis pun terus meningkat. Pada tahun 2013, Adis berkesempatan untuk menerbitkan tulisannya dalam sebuah buku berjudul “Koar-koar Backpacker Gembel”.
SILAHKAN DIBACA LANJUTANNYA KAKAK >>>

Apa Yang Kamu Lakukan, Dis? Kamu Travel Blogger Bukan, sih? Kok, Gak Pernah Posting Lagi!!!


Mungkin judul di atas adalah judul tulisan terpanjang yang pernah gue tulis di blog ini. Mungkin, dengan judul yang panjang, bisa menebus kekosongan blog ini dari 2 bulan kemarin (gak juga, sih!). Iya, 2 bulan blog ini gak ada tulisannya. Bahkan, perasaan gue gak pernah buka-buka blog gue sendiri.

Blog yatim piatu. Blog yang ditinggalin “mati” sama penulisnya.

Melihat judul di atas, kalian pasti tau, kenapa gue jarang nulis lagi. Alasannya bisa kalian baca di beberapa postingan sebelum tulisan ini.

Iya, gue sibuk sama urusan bisnis-bisnis-bisnis-dan-bisnis. Bahkan, kesibukan itu gue jadiin tameng dari kemalasan gue untuk menulis. Sekarang, menulis tidak begitu membahagiakan seperti dulu. Entah apa yang terjadi sama diri gue, tapi itu lah kenyataannya.

Tapi, beberapa menit tadi, ada mention yang masuk ke twitter gue. Dari akun @lionychan (yang entah gue gak tau itu siapa) dan akun itu ngetwit:

“#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-24 "Penyumbang Bahagiaku" tmblr.co/ZKvrGq1e2iXsn oleh @Yaraptr untuk @takdos”

Ah, program menulis dari #30HariMenulisSuratCinta ternyata. Dari @Yaraptr untuk @takdos. Tapi tunggu, siapa itu @Yaraptr? Pas gue liat, ava-nya sih cewek. Ok. Terus ada kata “untuk @takdos” di situ. Tunggu lagi, @takdos kan gue, yah? Terus itu program menulis surat cinta. Gue makin bingung. Ada cewek, nulis surat cinta buat gue? Kan gue mah jomblo? Penasaran, gue bukalah link itu dan baca tulisannya..

Penyumbang Bahagiaku


“Teruntuk laki-laki hebat dengan segala usaha dan perjuangannya.
SILAHKAN DIBACA LANJUTANNYA KAKAK >>>
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...