11/05/15

Makigaya Gak Bikin Backpacker Mati Gaya #JapanTrip

Sebelum ke Shizuoka, gue kayang dulu di Tokyo subuh-subuh

Mungkin gak banyak yang pernah berkunjung ke sebuah desa cantik bernama Makigaya di Jepang. Terletak tidak jauh dari Shizuoka, dengan menggunakan bus dari stasiun Shizuoka, hanya sekitar 20 menit lu bisa mencapai desa ini.

Gue sendiri waktu ke Jepang gak sengaja ngunjungin desa ini. Karena gue gak punya rencana apapun setelah nyampe Jepang, jadi gue datengin aja kota-kota yang tulisan Jepangnya keren. Nah, pas ke Shizuoka aja gue gak tau mau ke mana. Yang gue tau, katanya Shizuoka itu kota yang lebih nyantai dibanding Osaka ataupun Tokyo. Yaudah, akhirnya gue cobain ke sana. Dan ternyata emang bener, saking santainya ini kota, gue gak ngeliat tuh ada orang-orang kantoran berjas yang seliweran kayak di kota lainnya. Malah kebanyakan gue liat manula-manula aja sambil gandeng cucunya. Dan saking nyantainya ini kota, gue pikir Bob Marley berasal dari Shizuoka. Yomaaaan!
 
Tuh, udah pada nenek-nenek..
Artis Indonesia yang punya mall di Jepang? Pevita Parche

Begitu keluar dari stasiun Shizuoka, gue celingak celinguk. Gak tau mau ke mana. Sampai akhirnya gue liat di papan keberangkatan bus, ada satu nama daerah yang namanya unik, Makigaya. Yah, emang sifat ketertarikan gue dangkal sekali. Dari nama doang gue udah bisa langsung pengin ke sana. Entah apa yang ada di otak gue saat itu.

Nunggu bus lumayan lama, akhirnya gue cabut ke sana. Oh iya, inget, kalo naik bus di Jepang, usahakan lu punya receh agak banyak, soalnya kalo lu bayar ongkos bus pake pecahan besar, si sopir bus gak akan ngembaliin uang lu. Ribet soalnya. Jadi, usahakan bawa recehan.

10 menit perjalanan, gue masih liat bangunan-bangunan gedung khas perkotaan, 10 menit berikutnya, gue memasuki daerah pedesaan. Bangunan kota berganti jadi rumah-rumah sederhana kayak di film Doraemon. Gue udah mulai liat banyak perkebunan-perkebunan, bahkan ternyata di Jepang juga ada sawahnya (yaiya, lah!). Gue berasa lagi ada di Jawa Timur!

ini kebun teh hijau, kalo anak hipster bilangnya green tea!
Nah, karena gue gak ngerti mau ke mana, gue minta pak supir buat berhentiin gue di daerah yang namanya Makigaya. Gue kira, gue bakal diberhentiin di stasiun bus gitu dan banyak orang yang bisa gue tanya. Ternyata, gue diberhentikan di pinggir jalan, kiri kanan gue cuma ada sawah dan ladang. Sepanjang mata memandang aja gue cuma liat jalanan lurus kosong. Nah, mampus gue pikir!
SILAHKAN DIBACA LANJUTANNYA KAKAK >>>

01/05/15

Mendadak Jadi Turis di Kota Sendiri – KAA2015



“Apa yang paling dicintai dari Bandung?”
 
Pertanyaan yang sulit gue jawab sampai sekarang, hampir 24 tahun gue tinggal di kota yang namanya bisa menjadi kata kerja (nge-Bandung) saking nyaman dan cantiknya kota ini. Dibanding menjawab apa yang paling dicintai dari Bandung, gue lebih seneng kalo ditanya “Apa yang paling dibenci dari Bandung?” at least jawaban gue akan lebih singkat.

Kota Bandung yang cantik, menjadi sangat lebih cantik ketika kami, Kota Bandung, merayakan Konfrensi Asia Afrika ke 60 pada tahun ini. Walikota gue, Bapak Ridwan Kamil beserta para staff dan warga Bandung-nya sudah bekerja keras untuk membuat Bandung lebih cantik, bukan saja di nasional, tapi juga di mata dunia.

Pun begitu juga dengan gue, sebagai warga Bandung yang baik, gue gak mau sia-siain untuk merayakan pesta rakyat yang dibuat oleh Bandung. Beberapa hari sebelumnya Kementrian Pariwisata mengundang gue untuk ikut bergabung dalam merayakan #KAA2015 dan menjadi media blogger bersama dengan blogger-blogger luar lainnya seperti Singapur, Malaysia, Korea, India, Filipina, bahkan ada yang dari Kanada. Wooh, satu kebanggan sendiri buat gue bisa bergabung bersama tim ini.

Berangkat dari Trans Studio (dan udah teriak-teriak karena nyobain wahananya yang seru!), kami yang sehari sebelumnya menginap di Ibis Hotel langsung berangkat menuju pelataran parkir Hotel Panghegar-untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke gedung PGN di Braga menggunakan bajaj bertenaga bio gas. Di sini gue merasa keren, yang lain macet-macetan masuk Braga, kita lancar jaya pake iring-iringan bajaj. Padahal selama trip, yang kita datengin adalah tempat biasa gue main. Yang lain exciting, ya gue jatohnya begitu aja. Tapi tetep seru. Soalnya blogger luarnya banyak yang cakep. Hehe.

Supir Bajaj si Fahmi

Sesampainya di Gedung PGN, tempat media-media berkumpul, kita diajak langsung untuk ikut bergabung dengan warga yang tumpah ruah sepanjang jalan Asia-Afrika, sumpah, selama tinggal di Bandung, gue baru ngeliat Jl. Asia Afrika serame ini. Bandung sedang berpesta!

#LokalHangat

Jalanan penuh sama orang-orang yang entah berapa jumlahnya. Gue prediksikan mungkin jumlah orang yang tumpah ruah saat itu adalah 5.820.192 orang. Untuk jalan aja gue harus sumpel-sumpelan, dempet-dempetan sama orang-orang. Padahal Jl. Asia Afrika itu gede banget. Bayangin coba!
SILAHKAN DIBACA LANJUTANNYA KAKAK >>>

10/04/15

Review Filosofi Kopi - Bukan Sekedar Film, Tapi Juga Harapan


“Gue gak pernah bercanda soal kopi.”

Ben berulang kali mengucapkan kalimat itu di dalam film Filosofi Kopi. Film yang diadaptasi dari novel seorang penulis cerdas, Dewi Lestari, atau lebih dikenal dengan nama penanya, Dee.

Apa yang special tentang film Filosofi Kopi, sehingga gue menuliskan review-an film ini di blog whateverbackpacker.com, blog yang gue khususkan untuk cerita-cerita perjalanan backpacking gue. Jawabannya simple, gue adalah penggemar tulisan-tulisan dari Mbak Dee. Gue adalah pecinta kopi. Dan gue adalah seorang pemilik sebuah kedai kopi di Bandung yang sangat berekspektasi besar terhadap Filosofi Kopi. Terhadap film Filosofi Kopi.

Dan Filosofi Kopi akan menjadi postingan tentang review film pertama, terakhir dan satu-satunya di whateverbackpacker.com. Jadi, selamat menikmati tulisan gue tentang Filosofi Kopi.

Sejak pertama kali membaca bukunya, Filosofi Kopi menjadi salah satu “kisah” yang udah gue tunggu-tunggu untuk menjadi sebuah karya visual berbentuk film. Nah, di postingan kali ini, gue akan memberikan penilaian pribadi gue tentang film Filosofi Kopi. Karena ada beberapa sudut yang akan gue ceritakan, Review-an tentang Filosofi Kopi akan gue bagi menjadi 3 sudut pandang:

Gue sebagai pembaca dan penulis.

Gue sebagai pecinta kopi.
 
Dan gue sebagai pemilik kedai kopi.

So, here we go..
SILAHKAN DIBACA LANJUTANNYA KAKAK >>>

22/03/15

Tanjung Lesung - Menyelamatkan Kewarasan Sejenak



Sebelumnya, yang gue tau dari Pandeglang, Banten dan sekitarnya itu cuma dua hal. Seni bela diri Debus dan walikota Banten, Ratu Atut yang berkosmetik tebal. Gak ada yang lain. Sampai akhirnya, pekan kemarin, di tengah kesibukan bisnis gue (Cieee.. sok bisnis lu, Dis!)

Ehem..

Sampai akhirnya, pekan kemarin, di tengah kesibukan bisnis gue (Cieee.. sok bisnis lu, Dis!)

Ehem..

Ini apaan banget, sih!

Jadi, akhir pekan kemarin, gue bersama travel blogger, instagramer dan orang-orang media diundang oleh PT Banten West Java Tourism Development (BWJ) selaku anak perusahaan PT Jababeka Tbk yang mengelola Tanjung Lesung dalam acara 'Travel Blogger Visit to Tanjung Lesung' 12-14 Maret 2015, kami berkesempatan untuk mengunjungi Tanjung Lesung dan menikmati pesona alamnya. Buat gue, ini perjalanan yang lumayan bisa ngilangin stress gue sejenak dari kesibukan bisnis. (Cieee.. sok bisnis lu, Dis!)

Ternyata, Tanjung Lesung bukanlah saudara dari Tanjung Puting, apalagi Tanjung Perak. Tepi laut. Siapa suka. Boleh ikut.

Anjis, tulisan gue gak jelas gini.

Okay, kita mulai serius.

Buat kalian yang belum tau, Tanjung Lesung berada di Labuan, Pandeglang. Berjarak 180km, dengan menggunakan Bus dari jakarta, kami hanya memerlukan waktu tidak lebih dari 5 jam saja untuk mencapai sana. 


Begitu sampai di gerbang masuk Tanjung Lesung, kita bakal disambut oleh ratusan pohon-pohon rindang dan sawah-sawah yang luas banget. Rasanya aneh mengingat beberapa jam yang lalu gue masih ada di Ibu kota dengan kesibukannya yang bikin gue tambah stress. (Cieee.. sok stress lu, Dis!)

Ehem..

Sesampainya di Tanjung Lesung Beach Hotel, tempat kita akan menginap 2 malam ke depan, kita disambut oleh`orang-orang bercelana kolor dengan rok daun kelapa, dan mereka bertelanjang dada. Gue sempet bingung ini orang-orang pada kenapa, apa ini tempat rehabilitasi orang yang terganggu kejiwaannya? Apa gue diajak ke sini karena gue sudah terlalu stress dengan kesibukan bisnis gue? (Ciee, sok binis lu, Dis!)

Ternyata nggak, mereka berpakaian seperti itu untuk menyambut kedatngan kita dengan cara menari hula-hula ala Hawaii sembari mengajak kita untuk ikut berdansa. So much fun!


Setelah pegal-pegal karena kelamaan di bus, akhirnya gue masuk ke dalam Tanjung Lesung Beach Hotel. Dengan luas 1500 Hektar, Tanjung Lesung memiliki banyak tempat dan kegiatan yang bisa dieksplor. Apa aja itu? Ntar, gue cerita di postingan berikutnya, yak!
SILAHKAN DIBACA LANJUTANNYA KAKAK >>>
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...