30/08/14

Bertemanlah Saat Backpacking, Backpacker!


“So, in Turkey, when Ied Mubarak, every childern get a candy?”

“Yes, and they are very happy when Ied Mubarak come. Very different with Eid Al-Adha, because we not give candy, but a lot of goat. And childern dont like hahaha..”

“Hahaha.. How about German, Martin?”

...

Setelah capek hiking bareng, malam itu, di sofa dapur di sebuah penginapan backpacker di Makigaya, Jepang. Gue bersama pasangan suami istri asal dua negara yang berbeda, berbincang hangat tentang kebiasaan berbulan puasa di masing-masing negara kita. Aida yang berasal dari Turki bercerita banyak tentang makanan yang disediakan ketika lebaran. Sementara Martin yang berasal dari Jerman bercerita tentang waktu puasa yang lebih lama di Eropa Utara, di negara-negara yang pernah dia kunjungi. Malam itu, gue merasakan kembali nikmatnya menjadi backpacker. Bisa bertemu dengan orang baru dan saling bertukar cerita. Membuat pertemanan baru.

Gak kerasa, udah lebih dari 4 tahun sejak pertama ngelakuin perjalanan backpacking gue ke Thailand. Udah banyak banget yang gue dapetin dari backpacking, mulai dari pengalaman, dokumentasi perjalanan, sampai tamparan manis di bandara Bali saat gue berantem sama mantan. Hiks!

Tapi, ada satu hal yang gue suka saat menjadi backpacker, yaitu menambah pertemanan. Secara gak disengaja, gue selalu memasukan “menambah-pertemanan-di setiap-destinasi-yang-didatengin” di daftar wishlist gue ketika gue berpergian.

Kadang, gue selalu malu untuk menyapa seseorang kalo gue lagi ada di kota gue sendiri, Bandung. Rasanya, orang yang gue ajak kenalan bakalan takut kalo gue tetiba nyapa mereka. Contoh ketika gue lagi di sebuah cafe di Bandung, dan ada cewek duduk sendirian di meja sebelah lagi baca buku.

“Hai, apa kabar, nih?” Gue negur cewek itu duluan.

“...” Cewek itu diem aja.

“Kamu lagi baca buku apa?” Gue kembali nanya.

“...” Cewek itu diem lagi. Sekarang dia buang mukanya ke tempat sampah dan pura-pura gak dengerin gue.

“Aku penulis buku, loh.”

“Apaan sih!” Cuma kalimat itu yang dia ucapin, terus dia pindah meja. Meja nya dia gotong sendiri.

Bad luck, Adis!

Susah banget buat kenalan sama orang baru di kota sendiri, padahal gue niatnya cuma pengin nambah temen. Ya syukur-syukur bisa jadi pacar, terus nikah, terus punya anak, punya cucu, terus mati bareng. Oke, ini kejauhan. Tapi, beda banget kalo gue lagi backpacker-an. Contoh, waktu gue ke Phuket, gue kenalan sama dua pemuda Jerman di hostel, dan baru ngobrol 10 menit, kita bertiga langsung cabut ke pub striptis di Phuket Town, nge-beer sambil “nge-susu”. Dan abis itu, kita ketemu lagi di Phi Phi Island, kita bertiga nikmatin sunset di bukit. Romantis abis.


Atau, ketika gue pergi ke Derawan, gue berkenalan dengan Pak Ading, salah satu orang yang dituakan di pulau itu. Selama 5 hari, gue bermalam di rumahnya Pak Ading, gue ikut mancing bareng, gue dimasakin ikan, sampai gue dapet banyak cerita tentang Derawan yang wisatawan lain macem gue pasti gak akan pernah tau cerita itu.

Atau, pas backpacking ke Vietnam, di Cu Chi Tunnels, gue bertemu dengan sepasang suami istri dari Israel. Dan mereka yang membuka mata gue tentang negara Israel yang dikenal kejam. Ternyata, gak semua tentang Israel itu jahat, mereka malu ketika gue bertanya tentang sikap Israel terhadap negara tetangganya. Mereka mengaku salah, tapi mereka bilang bahwa kebanyakan orang Israel tidak mau perang itu terjadi, mereka hanya dipaksa oleh sistem pemerintahan mereka untuk mengikuti wajib militer. Negara jahat. Bukan berarti semua penduduknya jahat. Dan gue dapet banyak cerita dari mereka. Cerita yang gak akan pernah gue dapetin kalo gue pergi ke Cu Chi Tunnels dengan menggunakan travel agent. Berteman dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang bakalan bikin kita lebih bijak, menurut gue.

Pas backpackeran, gue kenalan sama cowok, cewek, anak muda, pasangan suami istri, bapak-bapak, ibu-ibu, semua yang ada di sini, ada yang bilang dangdut tak goyang, bagai sayur tanpa garam.. (Sambil nyanyi kan lo bacanya?) Dan sampai sekarang, gue masih keep contact dengan mereka. Dengan semua teman yang gue temuin di perjalanan.
SILAHKAN DIBACA LANJUTANNYA KAKAK >>>

25/07/14

Urban Camping, Cara Murah Buat Tidur di Jepang!


Jepang udah terkenal banget ke seluruh dunia sebagai salah satu negara yang paling mahal biaya hidupnya. Mahal banget! Bayangin, untuk makan aja lu bisa ngeluarin Rp. 30,000 - Rp. 50,000 untuk sekali makan. Itu pun cuma makan bento (nasi beserta lauk pauk) doang yang dijual di mini market yang tersebar di Jepang macam Lawson, Sevel, Family Mart, dll.

Untuk transport? Jangan tanya, gue yang super irit gini aja ampun-ampunan sama mahalnya transport di Jepang. Gila, untuk tiket bus dari Shizuoka ke Osaka aja budget-nya sama kayak biaya hidup gue di Thailand seminggu! Edan, kan!? Makanya, gue bilang Jepang itu negara yang gak bersahabat buat para backpacker.

Sering kali gue bilang, kalo mau jadi backpacker dan bisa menghemat uang banyak, cuma ada 3 aspek yang paling penting yang bisa lu tekan banget biayanya. Pertama masalah transportasi, kedua makanan dan ketiga penginapan.

Nah, untuk yang terakhir, yaitu penginapan, akan gue bahas khusus di postingan kali ini. Sebelum mulai, mari kita hitung rata-rata penginapan di Jepang, dan bandingkan dengan rata-rata penginapan di beberapa negara lainnya yang udah pernah gue datengin.

Dengan uang Rp. 300,000 penginapan apa yang bisa gue dapetin?

Singapura = 2 hari 2 malam di dorm room ber-AC dengan shared bathroom dan breakfast gratis.

Malaysia = 2 hari 2 malam di private room dengan kipas angin dan shared bathroom dan breakfast gratis.

Thailand = 4 hari 4 malam di private room dengan kipas angin dan shared bathroom.

Kamboja = 4 hari 4 malam di pivate room ber-AC, TV dan dengan private bathroom.

Vietnam = 3 hari 3 malam di private room ber-AC, TV dan shared bathroom.

Filipina = 3 hari 3 malam di private room dengan kipas angin dan shared bathroom.

Nah, gimana dengan Jepang? Penginapan apa yang bisa lu dapetin dengan uang Rp. 300,000??

1. 1 hari 1 malam di dorm room seadanya dengan kipas angin dan shared bathroom.

Kamar gue di dapur :))

2. 1 hari 1 malam di sofa dapur (waktu di Shizuoka gue bayar sofa di dapur seharga 228 rebu)
SILAHKAN DIBACA LANJUTANNYA KAKAK >>>

21/07/14

Isengnya Gue Keterlaluan!

You don't need a doctor when you are stressed, all you need is a journey!

“Duh, bete, nih. Jenuh banget gue tiap hari depan laptop liatin kerjaan. Pengin banget backpacker-an lagi sendirian. Ngilangin diri!” *menghela nafas*

Kata hati gue akhirnya meluapkan kepenatannya, di suatu malam, tepat dua minggu yang lalu. Gue cuma bisa menatap kosong layar laptop, sembari kembali mengenang perjalanan-perjalanan yang udah gue lakuin sebelumnya. Yaps, lumayan cukup banyak yang berubah setelah gue punya usaha sendiri. Perubahan paling kerasa adalah ke passion gue, backpacking dan menulis. Jarang di-update-nya blog, berbanding lurus dengan jarangnya gue backpacking. Padahal, dulu, hampir tiap bulan gue punya jadwal nge-trip, dan hampir 7 artikel gue tulis dalam satu bulan.

“Bermimpilah yang banyak, yang jauh. Dan percayalah, para pejalan akan menemukan caranya sendiri untuk mendapatkan perjalanan mereka :)”

Entah kenapa. Tetiba gue yang tadinya lagi ngitung budget produksi ini nge-klik tombol kanan mousepad, membuka new tab, dan typing “Airasia.com.” Gue lanjut iseng pilih Bandung di kolom keberangkatan, dan random memilih Osaka di kolom kedatangan. Iya, random gitu aja.

Muncul  beberapa digit harga tiket pesawat PP Bandung - Kuala Lumpur - Osaka - Kuala Lumpur - Bandung di layar laptop gue. Beberapa digit yang bikin gue terdiam sejenak, entah apa yang gue pikirkan waktu itu, gue cuma diem liatin layar laptop dengan tatapan kosong, dan 4 menit kemudian, tiket itu udah di-booking atas nama Mochamad Takdis. Nama gue sendiri.

Gak butuh waktu lebih dari 10 menit buat gue, mikir bakalan pergi ke Jepang. Gak lebih dari 10 menit. Yah, para pejalan akan menemukan caranya sendiri untuk mendapatkan perjalanan mereka. Termasuk cara absurd yang baru gue lakuin. Berawal dari iseng bengong, gak lebih dari 10 menit kemudian gue udah punya tiket ke Jepang. Ke JEPANG!

Malam itu, gue ketawa kenceng banget sambil lompat-lompat di dalem kamar. Entah seneng karena mau ke Jepang, entah ngetawain sendiri kebodohan gue yang secara implusif beli tiket pesawat dengan harga yang bisa dibilang gak terlalu murah.

Well, apapun yang gue rasakan saat itu adalah euforia kesenangan, kayak gue bakal ketemu dengan diri gue lagi. Diri gue yang dulu. Yes, backpacking is not about find the destination, backpacking is to find yourself. Dan malam itu, gue se-excited ketika gue mau ngelakuin trip pertama gue.
SILAHKAN DIBACA LANJUTANNYA KAKAK >>>

12/07/14

[7 Wonders] Overland Trip + Mobil Tangguh + Kopi + Sumatera = Perfect!



Ada rasa sesal,  kesal, dan ngiri ketika gue harus baca lagi kisah perjalanan teman-teman sewaktu ikutan trip “Terios 7-Wonders Sumatera Coffee Paradise”. Sesal karena gue gak sempat ikutan dan berpartisipasi pada trip itu. Kesal, karena konsep trip-nya adalah apa yang gue mimpi-mimpikan, bertualang overland menggunakan mobil, dan ngiri karena destinasinya yang keterlaluan keren dan gue pengin banget ke sana karena destinasinya adalah tempat-tempat di mana kopi-kopi juara Sumatera di produksi! Dan gue adalah pecinta kopi sejati. Saking cinta banget sama kopi, gue mau nikah sama sekarung kopi. Akh!

Yang epic nya lagi, “Terios 7-Wonders Sumatera Coffee Paradise” bertema petualangan dengan tagline “Sahabat Petualang”. Trip overland menggunakan 3 unit Daihatsu Terios Hi-Grade type TX-AT dan TX-MT  selama 15 hari ini, melewati 7 spot penghasil kopi terkenal di Sumatera. Di mana aja tempat itu? Mari gue kasih ringkasannya:
 
Perpisahan :'(

1. Kopi Liwa, Lampung

Sumatera memang dikenal sebagai penghasil kopi kelas dunia. Dan beruntunglah para peserta “Terios 7-Wonders Sumatera Coffee Paradise” berkesempatan mengunjungi tempat penghasil Kopi Liwa. Menyusuri rute Liwa - Danau Ranau, kita bakal disuguhi pemandangan hamparan hijau perkebunan milik warga dan Danau Ranau yang cantik. Perjalanan yang panjang seolah terbayar dengan menyecap segelas kopi panas di Sipatuhu. Selain itu, Kopi Liwa juga tengah berinovasi dengan membuat kopi beraroma ginseng dan pinang. Hemm.. kebayang gak lu gimana nikmatnya minum kopi di tengah pemandangan keren Danau Ranau? Pasti epic!


Dan yang paling bikin ngiri, di sana juga ada sentra pembuatan kopi luwak. Dan lu bisa liat langsung luwaknya makan biji kopi, terus eek, terus diproses dan voila, menjadi kopi paling mahal sedunia! Ah, sayang gue gak ngerasain :(


2. Kopi Lahat, Sumatera Selatan

Ada dua hal yang akan timbul di kepala gue kalo denger kata “Lahat”. Pertama, jalur gue kalo mudik ke Palembang. Kedua, bajing loncat! Iya, Lahat terkenal banget sebagai area yang berbahaya untuk para pengendara. Ya, selain jalannya yang terjal dan lumayan bahaya, di Lahat juga sering terjadi perampokan kendaraan bermotor saat malam hari. Sampai ada yang bilang, kalo lewat Lahat malam hari, lebih baik perjalanannya ditunda dulu, dan lanjutkan pada pagi atau siang hari. Karena memang sangat berbahaya.Tapi, sekarang udah berubah. Lahat yang sekarang adalah Lahat yang dikenal sebagai penghasil kopi unggulan. Dan salah satu pemilik home industrie kopi di sana adalah Pak Zahari Cikman pemilik Privatir yang berdiri sejak tahun 1980. Produksi kopi Pak Zahari bisa mencapai 100kg/ hari, WOW! Dan lagi-lagi, peserta “Terios 7-Wonders Sumatera Coffee Paradise berkesempatan untuk bisa mencicipi kopi terbaik Lahat. KEZEEEEEEEL!

Jalan kayak gini mah dilibas~
Oh, dan untuk jalanan terjal di Lahat? Tenang, Daihatsu Terios dengan mesin 3SZ-VE dengan 4 silinder dapat melaluinya dengan muluuuuuuuus~

3. Kopi Pagar Alam, Sumatera Selatan

Perjalanan menuju Pagar Alam

Hanya berjarak 48 kilometer dari Lahat, rasanya sayang kalo kita melewatkan untuk mencicipi nikmatnya Kopi Pagar Alam. Selain kopi nya yang nikmat, Pagar Alam juga terkenal dengan landscape nya yang hijau. Mengingatkan kita ke Puncak Jawa Barat jaman masih keren-kerennya. Lalu apa yang membedakan Kopi Pagar alam dengan kopi lainnya? Aroma yang khas dan rasa yang lebih lembut membuat kopi Pagar Alam patut dicicipi kalo kita berkunjung ke Sumatera. Apalagi kalo kopi itu menjadi teman bersantap siang di pinggir sungai sembari menikmati gemericik airnya. AAAAAKH PENGEEEEEEEN!!!

4. Kopi Empat Lawang, Sumatera Selatan
SILAHKAN DIBACA LANJUTANNYA KAKAK >>>
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...