Potongan Surga Kecil Bernama Sawarna

Implusif Trip

            Diawali dengan obrolan gue dengan tiga orang teman di sebuah kelas akhir pekan perkuliahan, karena jenuh dengan rutinitas perkuliahan yang emang gue sendiri pun gak tau selama kuliah ini gue belajar apa, maka tercetuslah ide spontanitas seorang teman bahwa sore nanti selepas perkuliahan kita akan langsung ber-gembel ria menuju Desa Sawarna Banten.

*langsung minjem laptop temen, searching info tentang Sawarna  diselingi cewekbugil.com dan bintangmawar.com *
Tujuan kita : Pantai Sawarna

            Perjalanan implusif alias tiba-tiba tanpa perencanaan dengan ketiga teman gue yang kacrut mencoba menguji nyali dan "kelelakian" kita yang memang diragukan menuju Pantai Sawarna di Daerah Banten, salah satu tempat eksotis di Pulau Jawa. Dengan hanya berbekal kompor kecil, tenda sobek, enam bungkus indomie yang udah rada kadaluarsa dan uang yang sebenernya cuma cukup buat nyewa mbak-mbak tukang pijit di warung remang-remang maka dengan tekad membara dan ketololan tingkat tinggi kita pun nekat berangkat. Cuss.

            Terminal Leuwi Panjang menjadi titik awal pengembaraan kita mencari kitab suci ke Daerah Banten, gue sebagai Sun Gokong berbulu rontok, Iqbal sebagai Wu Cing bergigi jarang, Wawa sebagai Guru Tom Sum Cong kehilangan orientasi seksual, dan Wuddy sebagai Ci Pat Kai yang lebih mirip anak babi kelewat puber. Setelah bertanya-tanya arah bus dan tujuannya kepada petugas terminal yang lebih mirip preman terminal. Maka kita pun empat pemuda tanggung dengan tampang sotoy menumpang bus ekonomi langgeng jaya berwarna hitam dan ber-strip merah menuju Sukabumi.

            Perjalanan selama lima jam bus bobrok yang nampak hampir roboh ini pun sukses membuat gue, Wawa dan wuddy bete karena kita hanya bisa tidur, ngobrolin daerah selangkangan cewe, tidur, bercanda, tidur, buka celana, tidur dan gigitin kursi penumpang terus tidur lagi. Beda hal-nya dengan teman gue yang satu ini. Iqbal, selama perjalanan dia hanya bisa tidur..tidur..tidur..dan HOEEEEKK !!! Muntah. Selama perjalanan terhitung tiga sampai empat kali Iqbal muntah, kita sebagai teman yang baik dan setia kawan hanya bisa tertawa, tanpa membantu sedikitpun Iqbal yang sedang berusaha menahan biar pecel lele sama kadal gorengnya gak keluar lagi dari perut dia. God bless u friend. *ngeleyos tidur lagi*

            Berlalu lah lima jam perjalanan yang nista, akhirnya empat pemuda tanggung gila ini sekarang berada di terminal bus Sukabumi pada jam satu subuh, sambil menunggu bus yang akan berangkat jam setengah dua subuh kita pun makan terlebih dahulu, kebetulan Iqbal membawa bekal satu nasi bungkus yang dibawa dari rumahnya berupa nasi yang bak porsi tukang kuli bangunan ketimpa beton ditambah dengan dua potong ayam  tiren  kecil dan secuil sambel terasi. Ah, nikmat sekali makan rame-rame bareng teman seperjuangan walaupun hanya satu nasi bungkus dibagi berempat. Bukan banyak atau enaknya makanan, tetapi kebersamaannya itu yang bikin makan subuh kita ini berasa nikmat. #TapiTetepMasihLapar

            Tepat pukul setengah dua subuh kita pun melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Ratu yang kita tempuh hanya dalam waktu dua jam saja. Perjalanan dini hari yang di dominasi rasa kantuk dan semiring angin subuh membuat gue yang dilanjutkan oleh Wawa, Iqbal dan Wuddy spontan menyanyikan lagu Bebas Merdeka dari Steven and Coconut Trezz. Entahlah peasaan teman-teman gue yang lain, tapi gue merasa bebas merdeka banget sekarang, menikmati perjalanan konyol ini bareng tiga temen kacrut gue.

Banyak yang bertanya
aku ini mau jadi apa?
nggak kuliah juga nggak kerja
tapi kujawab inilah aku apa adanya

tapi jangan kira
aku gak berbuat apa-apa
aku berkarya dengan yang ku bisa
dan yang penting aku bahagia

yang penting aku gak nipu
gak bikin susah kalian
yang penting gak terlibat
3, 7, 8 ....

kujalani apa adanya
aku bahagia
bebas lepas tanpa beban
aku merdeka

huoo.. yo.. yo.. yo..
na..na..na..na...

yang penting aku gak nipu
gak bikin susah kalian
yang penting gak terlibat
3, 7, 8 ....

yooo ... bebas merdeka..

#Now Playing Steven and Coconut Trezz : Bebas merdeka


            Sesampainya di terminal Pelabuhan Ratu kita kebingungan kaya orang bego nyari transportasi ke Sawarna, setelah bertanya-tanya ke penghuni terminal maka kita pun mendapatkan info bahwa transportasi ke Sawarna hanya ada satu hari sekali, yaitu menggunakan mobil elf pada pukul sembilan pagi. Well, akhirnya kita pun beristirahat sambil tiduran di lantai depan warung. Mirip empat orang anak homeless yang diusir kampung-nya karena ketauan ngegilir kucing pak RT.

Pantai Perawan Bernama Sawarna

            Suara bising kehidupan terminal di pagi hari membangunkan kita berempat dari tidur cantik bak putri tidur semalam, sambil menunggu pukul sembilan kita pun membeli nasi bungkus seharga 2.000 Rupiah sekedar untuk sarapan dan nimpuk cacing di lambung kita yang rame-rame nyanyi keroncong tanda demo minta makan. Mobil elf yang ditunggu pun datang, kendaraan darat yang nampak tidak mempedulikan hak asasi manusia, karena penumpang dilakukan nampak seperti barang ditumpuk sana sini. Penyiksaan pun terlewati, sampai di desa Sawarna dalam waktu dua jam.

            Sesampainya di Desa Sawarna, dimana ini adalah satu-satunya pintu masuk menuju Pantai Sawarna, kita harus berjalan kaki melewati jembatan gantung goyang karawang yang dibawahnya adalah sungai berarus deras. nah loh!? Desa sawarna sangat menyenangkan, selain ini perkampungan yang jarang sekali gue liat di Bandung dan kota besar lainnya, penduduknya pun sangat ramah dan tak jarang mereka melempar senyum kepada para pendatang yang sukses membuat gue beranggapan menjadi artis sinetron striping di SCTV yang sedang mengunjungi perkampungan terpencil, dan anehnya gue pun merasa malu dan ge-er disenyumin nenek-nenek dan ibu-ibu berdaster. Disini gue mulai mempertanyakan kembali orientasi seks gue. *ngubur diri di tanah*
  
            Desa Sawarna adalah desa kecil yang asri, dengan dihiasi banyak pohon dan dikelilingi sawah hijau dan pantai maka tak heran banyak pengunjung baik turis lokal maupun turis mancanegara menyambangi tempat indah ini. Lumayan banyak guesthouse dan penginapan di desa yang kebanyakan adalah milik penduduk setempat, harga rata-rata guesthouse dan penginapan disini adalah 100.000 Rupiah sampai 150.000 Rupiah. Tidak jauh berjalan dari desa, hamparan pasir putih dan air laut biru menyambut kita empat pemuda tanggung berbadan lusuh di Desa Sawarna.

            Pantai yang benar-benar pure pantai ini tidak memiliki sarana dan prasarana seperti layaknya pantai pariwisata Pangandaran maupun Kuta Bali, hanya ada satu warung kecil yang menjual berbagai macam kudapan dan aqua dengan harga melambung tinggi, tanpa ibu-ibu penjual cendera mata, tanpa tukang pijit dan tukang tattoo bau ketek dan tanpa tempat penyewaan papan surfing atau snorkel.

            Tak lama gue memandang dan menikmati Laut Sawarna, kita langsung mendirikan tenda di pinggir pantai setelah meminta izin kepada penjaga warung yang ternyata kita baru tahu namanya adalah BimBim, di Pantai Sawarna kita bebas mau mendirikan tenda, membakar api unggun, salto jumpalitan, ngemilin pasir, telanjang lari-lari sambil guling-guling di pasir dan sebagainya, karena mungkin ini pantai yang masih sepi. Oya, Pantai Sawarna juga memiliki ombak yang lumayan bagus untuk surfing. kenapa gue bisa tau? soalnya gak sedikit juga bule yang nenteng-nenteng papan surfing segede gaban melewati kita.

Ini tenda apa terpal segitiga?

            Setelah susah payah mendirikan tenda ditemani dua ekor anjing yang sedang kasmaran, gue memasak mie sekedar pake air sumur untuk mengganjal perut yang lapar ini (aqua yang gue bekel dah abis) dengan tetap ditemani dua ekor anjing yang sudah mulai menunjukan tanda-tanda mereka lagi di puncak nafsu iblis (sepertinya gue tidak perlu menceritakan apa yang gue lihat) sungguh pengalaman yang seru  melihat anjing sedang kimpoi  bisa berkemah di pinggir pantai yang sepi dengan tiga sahabat berkelakuan aneh.

            Puas mengganjal perut kita pun bermain-main di pantai sekedar berenang dan berkeliling pantai. Karena kita adalah empat remaja yang penuh semangat dan gak tau diri, kita berinisiatif untuk memanjat pohon kelapa dan mengambil buahnya yang banyak terhampar di Pantai Sawarna, tentu saja dengan tidak meminta izin dulu kepada pemiliknya, wong gak ada siapa-siapa disana yah jadi silahkan ambil sesuka hati saja *masang tampang bego*. Pertama yang memanjat pohon kelapa tinggi ini adalah Iqbal dan dia berhasil memetik dua biji kelapa setelah akhirnya menyerah karena capek menahan berat beban dan gigitan semut rangrang, lalu yang memanjat adalah Wuddy, bener-bener deh nih orang dasar emang karena haus atau kesurupan dia manjat cepet banget dan berhasil memetik enem biji kelapa dalam waktu yang sangat cepat! Entahlah mungkin kalo ada pemecahan rekor dunia memanjat pohon kelapa gue pasti akan jagokan Wuddy ditempat pertama dan monyet osteoporosis di tempat kedua. Awesome.


Magic Mushroom

            Sore itu kita menuntaskan dahaga dengan delapan buah kelapa hasil merampok, kita beristirahat sejenak dan tiba-tiba seorang penjaga warung bernama BimBim tadi yang gue kira adalah mantan drummer band Slank yang kena drop out gara-gara suka nelen stick drum-nya ini menghampiri kita, percakapan basa-basi cukup lama sampai akhirnya si Wawa menanyakan  "apakah ada MUSHROOM??" Yah, mushroom alias jamur racun tai kebo yang bisa bikin orang normal jadi stress dan orang stress jadi normal ini sungguh membangkitkan semangat hidup kita sebagai empat makhluk yang diusir Tuhan dari Surga, apalagi dengan jawaban "ada kok mas.." dari mulut manis BimBim *sambil senyum 10 senti* dengan sigap si BimBim memberikan kita mushroom yang sudah dijadikan omelette dengan harga 40.000 setelah nego yang harga awalnya adalah 50.000 Rupiah. Lets party.

            Yah, ternyata setelah melibas habis mushroom tanpa sisa, tidak ada reaksi yang terasa signifikan kepada tubuh kita nampak seperti biasa saja, tetapi #jengjongjeng *drum ditabuh, gamelan dipukul, kendang ditepak, kepala botak dijilat* badan kita mulai lemas lemas dan roboh ke pasir, pandangan kita mulai kabur, pendengaran gak jelas, idung meler, mata merah berair, kaki dikepala, kepala dikutang (saking gak jelasnya kondisi waktu itu) yah, akhirnya si tanaman spora jahat itu bereaksi terhadap otak kita, seperti orang tolol dan kurang waras kita pun tidur sambil memandang langit, gue sendiri melihat banyak Spongebob dan Patrick yang sedang gebukin Teletubies di langit, tapi entahlah halusinasi teman-teman gue seperti apa mungkin si Iqbal sedang berhalusinasi sebagai tukang gali kubur karena dengan bodohnya dia menggali pasir dalem banget ampe dosa gue bisa masuk, sementara si wuddy temen gue yang berasal dari Sukabumi ini tiba-tiba memiliki ilmu kebal entah karena mushroom atau karena kita berada di Daerah Banten, dengan bangganya dia kopek-kopek dan dia garuk luka dikakinya bekas korban jatuh dari motor dan itu tanpa rasa sakit sedikitpun. WOW!! Sementara temen gue satu lagi si Wawa entahlah mungkin karena lapar atau emang doyan, doi malah ngemilin pasir pantai "kruess..kruess.." bunyi pasir yang dia kunyah.

Korban Mushroom -___-"

            Tak lama kita pun saling pandang dan mulai saling berbincang, walaupun perbincangan tidak lucu tetapi kita tertawa terbahak-bahak mirip pasien rumah sakit jiwa tanpa sebab dan akibat yang jelas, karena di siang hari yang terik kita tertawa terbahak-bahak dan berguling-guling di pasir, sampai para wisatawan lain menganggap kita mungkin seperti empat pemuda  tampan  tolol yang hilang setengah otaknya kebawa ombak gede di Laut Sawarna. Walaupun kita baru beberapa jam berada di Sawarna, tetapi dengan mushroom kita berasa sudah sangat lama disini serasa sudah tujuh tahun saja, dan sore hari ini pun gue lewati dengan sound track dufan yang terus mengiung-ngiung di telinga gue, sambil senyum senyum sendiri dan tertawa lagi terus bengong terus ketawa lagi dan begitu seterusnya.

            Efek mushroom Sawarna hanya bertahan selama lima jam akan tetapi lima jam itu adalah lima jam yang sangat sangat indah diperjalanan konyol kita! Lalu kita sadar dan kembali kejalan yang benar. Sunset yang ditunggu-tunggu pun tiba, tapi karena hari itu lumayan mendung sunset yang kita lihat tidak terlalu bagus karena tertutup awan gelap, ketika malam menjelang para wisatawan pun pada pulang ke penginapan mereka masing-masing dan hanya tersisa kita berempat saja di pantai yang gelap tanpa penerangan sedikitpun. Untuk melewati malam yang panjang ini tidak banyak yang kita lakukan karena dipantai tidak ada penerangan sama sekali, kita pun membuat api unggun sambil memasak mie instan (lagi) kita pun bermain gitar sambil bernyanyi dan teriak-teriak keras, secara disini tidak ada orang yang peduli dan terusik oleh tingkah konyol kita. Malam tenang dan angin semilir dipinggir pantai serta cercahan cahaya dari api unggun membuat suasana begitu romantis, dan hampir membuat gue melakukan gerakan slow motion memegang tangan Wawa dan memandang matanya dalam lalu mengucapkan secara pelan tapi indah. ai lep yu. Dan untung itu gak terjadi, thanks god.

            Diiringi petikan gitar yang piawai dari Si Wawa kita pun menghabiskan malam sambil bernyanyi yang lebih terdengar seperti berteriak, lagu Saint Loco, berjudul santai saja, mengiringi kita malam itu untuk melewati cahaya bulan di Pantai sawarna.

Santai saja kawan
Ikuti kata hati biarkan sedihmu berlalu
Kau pasti bisa
Menjadi suatu hari dengan pagi yang baru

Tenang saja kawan
Hadapilah semua
Kau harus bersabar
Semua indah pada waktunya

Santai saja kawan
Ikuti kata hati biarkan sedihmu berlalu
Kau pasti bisa
Menjadi suatu hari dengan pagi yang baru
Tenang saja kawan
Hadapilah semu
#Now Playing Saint Loco : Santai Saja

            Lagu yang cocok banget buat kita, empat anak ilang dari berbagai Bandung, Cimahi, Sukabumi dan Bekasi yang berjanji bakal sahabatan ampe ntar kita nenek-nenek kakek-kakek. Dan pertanyaan gue, siapa yang bakal jadi nenek? Mungkin Wuddy bakal merubah bentuk kelaminnya tujuh tahun kedepan. Siapa yang tau rahasia Tuhan nanti. #abaikan

Wuddy, Wawa, Iqbal dan Gue

            Kita bangun pukul lima pagi dan langsung bergegas merapikan tenda dan lain-lain, karena kita harus mengejar angkutan umum sejenis elf yang berangkat dari Sawarna pada pukul setengah enam pagi. setelah berpamitan dengan BimBim kita pun berangkat pulang menuju Bandung dengan rute yang sama pada saat pergi. pukul empat sore pun kita sampai di Bandung, dengan badan lusuh dan dekil karena selama trip ini kita tidak mandi sama sekali, kita pun tertidur pingsan dengan kulit punggung yang merah dan kulit mengelupas. Perih !!!
           
VIVA MUSHROOM…!!!

BIAYA

ongkos PP bandung - sawarna Rp.110.000
nasi kuning di terminal RP. 2.000
mushroom/orang Rp. 10.000

TOTAL RP.122.000

dan uang saya masih sisa Rp.18.000
hahaha..gembel yang bisa jalan" kan??
Laughing out loud

21 komentar:

  1. mushroom emang mantabs gan, semalem ane baru ngoba,hahaha ketawa gak berenti renti

    BalasHapus
  2. huahahaha mantap abis yah gan...asoy gebooooooooy

    BalasHapus
  3. kakaaa butuh info buat k sawarna nie..aku add ym nya yaaa...makasih
    schinta :)

    BalasHapus
  4. mushroomnya perlu dicoba sepertinya

    BalasHapus
  5. @Schinta : Halo schinta. silahkan tanya2 di Ym yah :D

    BalasHapus
  6. mushroom dsni 20rbu gan,,,itu msh mentah

    BalasHapus
  7. Ada yg ngeganjel... lu pada ngupas kelapanya pake gigi ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. BETUL SEKALI bro reza !! hahaha..kebetulan temen gue si wuddy itu serba bisa :))

      Hapus
  8. woooooo serius elf yg ke sawarna cuma ada 1 pas pagi? -___-

    BalasHapus
  9. tertarik dong sama pantai sawarna.
    btw itu penginepan tau fasilitas apa gak?
    punya temen yg bakal jadi ganas nih gan kalau gak makan. dan parahnya 3jam sekali dia bisa laper.
    -,-

    BalasHapus
  10. parah! asik banget tuh traveling ngegembel bareng temen2! bang aku udah add ym nya :D mau nanya-nanya nih hehe

    BalasHapus
  11. Ka, saya mau nanya2 tentang sawarna. Twitter kaka apa?

    BalasHapus
  12. baca postingan bang adis gak ada bosennya..
    #jadi terinspirasi

    BalasHapus