The Excoticm of South Thailand (Phuket & Phi Phi Island) Rp 1,3 juta selama 8 Hari

My  First Backpacking Experience

Enjoy your world, fellas

          Pernah gak lo pada ngerasain bosen, bete, mager (males gerak), terkekang, tertindas, terinjak, terlena, terlalu dan ter.. ter.. lainnya karena saat lo dapet liburan semester yang panjang, tapi gak lo pake buat ngapa-ngapain atau gak lo pake buat kemana-mana banget. Cuma diem di rumah, maen komputer, maen handphone, maen facebook sama twitter, tidur, makan, nonton DVD  bokep , maen PS, ngocok (kartu), tidur lagi dan makan lagi, dan begitu seterusnya. Nah, itulah yang awalnya memotivasi gue untuk akhirnya iseng-iseng searching tiket murah ke luar negeri.

            Singkat cerita, akhirnya gue mendapatkan tiket promo Air Asia yang “lumayan” murah untuk pulang-pergi dari Jakarta menuju Phuket Thailand dan kembali lagi ke Jakarta. Otomatis inilah pengalaman pertama gue traveling sendiri ke luar negeri, walaupun, ini bukan pertama kalinya gue ke luar negeri. Soalnya dulu pernah sempet ikutan job training ke Malaysia selama enam bulan dan kebetulan gue jadi best trainee. *mamerin sertifikat best trainee*  #Abaikan.

            Anyway, Gue ke Phuket Thailand tentunya bukan sebagai turis yang bawa koper seabreg, baju selusin, nenteng kemeja rapih, kacamata lebih dari satu, terus bawa duit Dolar segepok. Tapi sebagai backpacker !! Backpacker yang mau gak mau harus bopong tas segede gaban, yang harus mau naik kendaraan umum super bobrok, dan yang harus makan murah apa adanya yang penting kenyang. Nampak seperti gembel? Iya memang, tapi gembel dengan tingkat kecerdasan sangat tinggi dalam hal me-menej perekonomian karena harus super duper irit buat ngeluarin duit, even itu cuma 100 Rupiah doang. Itulah hebatnya backpacker. Proud to be a backpacker !!

Sedikit kata pembuka untuk kalian para petualang dengan budget minim.
''jangan pernah takut untuk meng-explore dunia luar, karena tidak akan pernah ada yang sia-sia, celebrated our life because life an adventure''
          
Sawasdee Thailand

          Cerita ngegembel ini tentunya gue awali dari rumah gue di Bandung, dengan berbekal uang seadanya dan restu dari kedua orang tua gue, gue pun memulai perjalanan dengan bis menuju Bandara Cengkareng, berangkat dari Bandung pada pukul sepuluh pagi dan sampai ke bandara pada pukul satu siang, gue bingung karena ini pertama kalinya gue ke luar negeri sendiri. Pertama gue check-in di counter Air Asia dengan membayar pajak bandara sebesar 150.000 Rupiah, mahal. setelah check-in dan lain-lain, gue pun menghadapi gerbang imigrasi dan scaner barang bawaan.

            Beres dengan tetek bengek pengecekan, gue pun menunggu pesawat di boarding room, gak lama pesawat pun datang tepat waktu pada pukul empat lebih empat puluh menit dan sampai di Phuket pada pukul delapan lebih lima menit, lebih cepat lima belas menit dari jadwal. Di pesawat gue bertemu dengan Febry, Yunus, Saras dan Eji, empat orang anak Universitas Indonesia yang akan berlibur sama seperti hal nya gue. Dan pada akhirnya setelah perjalanan ini gue berteman baik dengan mereka. *kecup basah buat lo berempat*

galau nunggu pesawat
            Karena menurut info yang gue baca, transportasi bis yang menuju ke Phuket Town dari bandara paling telat adalah pukul sembilan malam, karena gak mau ketinggalan bis gue gak terlalu merhatiin bandara ini seperti apa, setelah melalui gerbang imigrasi gue pun langsung menuju pintu keluar tanpa melakukan scan check terlebih dahulu dan dipersilahkan melenggang dengan mudah melewati pengecekan. Entahlah, mungkin karena petugasnya lihat gue cuma bawa tas ransel jadi gak terlalu di bikin ribet, ataupun mungkin karena gue ganteng apa adanya jadi dia segan buat ngecek gue. Hehe. Dan disini juga lah gue berpisah dengan empat anak nyasar dari Universitas Indonesia.

(info : bus terakhir dari bandara menuju Phuket Town adalah pukul sembilan malam)

            Pertama kali menghirup udara Phuket pada malam hari, gue pun langsung berlari menuju stasiun bis yang berada di samping pintu keluar bandara yang akan mengantarkan gue langsung menuju Phuket Town, dengan ongkos 85 Baht gue langsung menuju Phuket Town, ternyata bukan cuma di Indonesia aja yang ada kenek nya, ternyata di Thailand, bis bis disini pun menggunakan jasa kenek untuk meminta ongkos kendaraan dari penumpangnya, kebetulan kenek bis gue saat itu gak terlalu bisa bahasa Inggris, alhasil dengan bahasa tarzan sambil nunjukin sebuah alamat hostel yang bakal gue kunjungi dia pun akhirnya ngerti dan tau dimana gue bakal diturunin.

            Turun dari bis tepat di depan hostel yang gue maksud, gue langsung check in di Hostel Lub Sbuy yang udah gue incer dulu sebelumnya dari internet, kamar dorm yang gue sewa sebesar 300 Baht/ malam dan deposit 100 Baht lumayan murah untuk hostel seperti ini, dengan bentuk bangunan yang tidak terlalu besar, hostel ini lebih ke gaya minimalis spektakuler spekulasi organisasi *buka kamus bahasa Indonesia*, kebetulan Hostel Lub Sbuy ini adalah hostel yang baru dibangun, hostel bertingkat empat dengan cukup banyak kamar yang disediakan, juga share bahtroom berkeramik kinclong ditambah gratis shampo dan sabun cair, sangat sepadan dengan apa yang gue bayar, ditambah juga fasilitas lain seperti free wifi, internet komputer, lobi yang nyaman dan staff yang helpful banget.

Lub Sbuy's Room
            Gue booking kamar selama dua hari disini, dan mendapatkan kamar dilantai paling atas, ketika pertama kali membuka pintu geser dan masuk ke kamar, ternyata ada dua orang bule yang telah dua hari menginap di kamar ini sedang minum rokok sambil ngenyotin beer. Loh? Awalnya sih gue agak canggung satu kamar dengan mereka yang jelas-jelas sangat asing bagi gue, takutnya sih gue diiket gitu di kasur terus ditelanjangin terus dipaksa buat ngejilatin bulu ketek mereka, itu kan serem banget. Anyway, ternyata mereka sangat welcome dan bersahabat, dan gak maksa gue buat ngejilatin bulu ketek mereka. Mungkin karena kita sama'-sama backpacker. Jadi kita banyak ngobrol tentang pengalaman ber-backpacker sambil saling mengenal satu sama lain. Obrolan gue dengan mereka ditemani juga oleh lagu-lagu rock yang menghentak keras dari handphone Sony Ericsson milik salah satu dari mereka.

Another day is going by
I'm thinking about you all the time
But you're out there
And I'm here waiting

And I wrote this letter in my head
Cuz so many things were left unsaid
But now you're gone
And I can't think straight

This could be the one last chance
To make you understand

I'd do anything
Just to hold you in my arms
To try to make you laugh
Cuz somehow I can't put you in the past

I'd do anything
Just to fall asleep with you
Will you remember me?
Cuz I know
I won't forget you
#NowPlaying Simple Plan - I’d Do Anything

            Manu Heusinger dan Michael Rudloff nama mereka, dua orang pelajar yang gak jauh beda umurnya dari gue ini berasal dari Jerman, yang ternyata sedang libur panjang juga sama seperti gue, Manu ini adalah seorang remaja yang menurut gue mirip Eminem, tetapi dengan banyak bulu pirang yang menggeliwir di dadanya, sedangakan Mike lebih mirip komedian asal Amerika, yang kalo gue gak salah sih namanya adalah Ucok Baba.


            Belom nyampe sejam gue nyampe di hostel, mereka langsung ngajak gue jalan ke club atau bar daerah Phuket. Entahlah ini ajakan persahabatan atau ajakan setan, karena, dengan dasar apa mereka mengajak gue ke tempat begituan? Apa mereka gak melihat tampang innocent nan lugu yang ada di muka gue? Apa mereka gak melihat aura positif yang terpancar dari pantat gue? Anyway, buat kali ini gue pengen ngikutin setan aja, empat jam perjalanan pesawat, lari-lari di Bandara Phuket, naek bis dengan kenek yang harus pake bahasa tarzan dulu baru ngerti apa maksud gue, ditambah semua kecapean dan kelelahan yang gue alami selama perjalanan ini gak gue hiraukan. Gue pengen liat  banci dan  wanita seksi Thailand !! Haha. So exciting.

Pink Ledeeeeh Beybeeehh..
            Basic nya dunia malam Phuket sangat membosankan, tidak ada tempat dugem untuk mencurahkan kemampuan triping gue (yaelah, tripiiiing, jaman kapan tuh dis?) Hanya ada restoran, cafe dan bar-bar kecil, dan itu pun hanya buka sampai pukul satu malam saja, banyak turis yang bilang Phuket Town sangat membosankan, tetapi pada akhirnya Gue, Manu dan Mike menemukan sebuah bangunan mencurigakan yang kita bertiga mensinyalir itu adalah sebuah club remang-remang tempat dimana mata gue bisa ber-rekreasi dan celana gue bisa jadi mendadak sempit. Nama bangunan ini adalah Pink Lady, bangunan persegi panjang yang mirip rumah makan padang Doa Bundo di kota gue tapi yang membedakannya adalah poster besar beberapa wanita berbaju minim yang sedang berpose seksi terpampang di depannya. Semakin membuat kita bertiga sebagai pemuda penuh gejolak jiwa langsung masuk ke dalam bangunan bernama Pink Lady tersebut.

            Pertama kali masuk kesana dengan pintunya yang cukup besar dan kondisi ruangan yang dengan pencahayaan apa adanya, membuat gue berasa kaya di tempat karoukean mesum di Bandung. Dengan lampu kelap-kelip kecil yang apa adanya juga dan jejeran sofa empuk dengan para wanita seksi sebagai waitress-nya ditambah satu panggung yang cukup lebar tapi tidak terlalu tinggi. Gak lupa juga ada lady boy Thailand yang baru pertama kali gue liat langsung dengan mata kaki gue sendiri. Well, Kita pun duduk dan memesan tiga botol beer Shang-hai,harga beer di dalam club memang lebih mahal dibandingkan dengan beer yang ada di mini market.

            Beberapa puluh menit berlalu, kita sempat jenuh juga cuma diem aja, karena ternyata hiburan yang disediakan disana hanyalah perempuan-perempuan Thailand yang saling bergantian menyanyi di atas panggung, mana gue gak ngerti juga dia nyanyi apa, “tong pang tong seng cung lang heng naaang” begitulah nyanyian yang gue dengar. Gila !! Sumpah bete, jijik, kentang, gak enak banget diem disini.

            Eh, tapi setelah kesabaran gue untuk menahan ke-bete-an itu, akhirnya terbayar juga. #JengJongJeng *lo bayangin backsound saat Superman nongol*. Semua wanita yang tadinya bernyanyi bahasa alien secara bergantian, akhirnya kumpul semua dalam satu panggung dan mulai menari-nari nakal, menggelinjang, memamerkan kemolekan mereka, ada yang goyang seadanya, ada yang goyang mirip Anisa Bahar, ampe ada yang goyang sambil buka beha dan mamerin daerah selangkangan mereka. Mungkin ada sekitar 30 wanita di atas panggung itu, sungguh sangat sangat membangkitkan semangat Gue, Manu dan Mike yang dari tadi letih, lemah dan lesu. Dan akhirnya kita bertiga cuma bisa melototin mereka goyang-goyang sambil sedikit ngeces tentunya. Sluuurrrpp.

            Ternyata setelah gue tanya sama waitress-nya, kenapa semua cewe-cewe itu ngumpul di atas panggung terus joget-joget birahi gitu, ternyata itu adalah cara mereka untuk menjual diri mereka, yah, hampir sama kaya kalo lo mau beli barang, nah si barang itu dipajangin dulu. Harga buat “nyobain” mereka bervariasi, mulai dari 5.000 Baht sampai 20.000 Baht. Haha. Harga yang mahal tentunya bagi gue sebagai seorang backpacker gembel, mending gue pergi ke kamar mandi, buka celana, ambil sabun, terus........ Ya mandi, emang dipikiran lo gue mau ngapain? Hahaha.

            Puas memanjakan mata dan ngebangunin dikit si “adek”, selesai sudah urusan gue dengan dunia fana itu, Gue, Manu, dan Mike pun bergegas pulang ke hostel untuk istirahat. Man is what a Man do.

I LOVE BEACH

            Saat gue terbangun dari tidur sambil mimpi mesum siang itu, kedua teman sekamar gue dari Jerman itu sudah tidak ada di tempat tidur mereka, barang mereka sudah lenyap, kasur mereka sudah tertata rapi, bau beer khas orang Jerman pun sudah hilang dari udara di kamar gue. Gue baru inget, mereka cerita semalam kalo mereka bakal langsung melanjutkan perjalanan saat pagi hari menuju Phi Phi Island. Ihh, nyesel banget padahal gue belum sempat berfoto, cipika cipiki, pegang-pegangan tangan atau saling bertukar facebook dan kolor dengan mereka. #Hening.

Bis di Phuket 
            Gue pun akan menghabiskan hari ini dengan itinerary yang sudah gue buat sebelumnya, mengelilingi Phuket Town dan mengunjungi beberapa pantainya. Di Phuket Town-nya sendiri, tidak terlalu banyak tempat menarik yang bisa gue kunjungi, hanya Old Phuket Town (seperti kota tua di Jakarta) dan beberapa daerah lain yang tidak terlalu menggejolakkan minat gue, akhirnya dengan tekad membara, gue memutuskan untuk mengunjungi beberapa pantai yang dekat dengan Phuket Town, yaitu Kata and Karon Beach. Gue naik bis dari Ranong Road di Phuket Town menuju Kata Beach dengan ongkos sebesar 30 Baht. Gue pikir ini bukan bis, jadi transportasi yang gue naiki ini memang disebut bis sama warga sekitar dan para wisatawan, tapi bis yang dimaksud adalah sebuah truk bak yang dimodifikasi, dikasih penutup gitu atasnya biar yang naik gak kepanasan, terus tempat duduknya terdiri dari tiga baris kursi panjang, hampir mirip seperti angkot kalo di Indonesia, cuma yang ini bentuknya buka mobil kecil gitu, tapi sebuah truk gede yang bisa muatin kurang lebih 20 penumpang.

Kata Beach
            Cukup 20 menit perjalanan ke Kata Beach, selama perjalanan gue disuguhi banyak jalan menanjak dan tebing-tebing batu tinggi. Sesampainya di Kata Beach gue memutuskan untuk makan dan membeli air mineral, karena sedari bangun tadi mulut gue belom nyentuh air sama sekali. Anyway, Kata Beach menurut gue adalah pantai yang cukup bagus, dengan pasir pantainya yang putih dan airnya yang biru tenang. Pantas banyak sekali turis yang datang kesini bukan hanya sekedar untuk berenang, tetapi banyak juga turis yang datang hanya untuk berjemur, men-tattoo badannya, sampai ada turis yang dateng kesini cuma beli jus segar yang dijual di pantai. Sedangkan Karon Beach yang berada di sebelah Kata Beach lebih tenang dan tidak terlalu banyak turis. Yang gue salut disini tuh adalah kebersihan pantainya, gue menyaksikan sendiri ada turis bule yang masih bocah berjalan ke tempat sampah hanya untuk membuang bekas bungkus permen karet doang, padahal tempat dia diem di pantai itu cukup jauh dari tempat sampah. Salute !!!

            Berenang di pantai udah, berjemur ala bule biar kulitnya item padahal gue item udah, makan sama minum udah, cuci mata liat bule berbikini juga udah. Gue pun pulang kembali ke Phuket Town. Di hostel, gue pun bergegas untuk  mandi dan membersihkan diri, setelah itu bersitirahat sejenak lalu pergi jalan-jalan buat menikmati pasar malam di Phuket, pasar malam di Phuket Town tidak jauh dari hostel gue, cukup berjalan kira-kira 127 langkah di tambah salto ke belakang tujuh kali.

            Di pasar malam Phuket Town berjajar banyak tempat makan dan kios-kios yang menjual berbagai cendera mata tentang Phuket, mungkin ini sekilas mirip Gede Bage di Bandung, banyak deretan toko baju di sepanjang jalan, tapi gue gak begitu tertarik, selain modelnya yang biasa aja, gambar-gambar di kaosnya pun norak. Satu-satunya yang menarik buat gue hanya kuliner alias makanannya aja, untuk pertama kalinya gue mencicipi Tom Yum asli made in Thailand !!! Harganya emang cukup mahal menurut gue, 150 Baht untuk semangkuk besar Tom Yum Seafood hangat, tapi sangat sebanding dengan rasa dan rasa dan rasanya yang sangat sangat sangat enak. Dengan kuah asem pedes gurih, ditambah potongan-potongan cumi, ikan, udang dan berbagai sayuran di dalamnya, membuat lidah gue tiba-tiba kebal dengan panasnya kuah Tom Yum dan gak berhenti-berhenti nyeruput kuahnya. Laziiiiiiz.

            Kenyang menyantap makan malam, gue beristirahat dan tidur dengan damai, karena besok gue harus bangun pagi untuk check out dan bertemu dengan seorang teman yang akan mengajak gue berkeliling Phuket. Sound like awesome yeaaaah !!!

 (info : perhatikan selalu jadwal bus bila ingin berpergian menggunakan bus)

 (info : untuk mengelilingi Phuket Town akan sangat jauh lebih mudah menggunakan motor, harga sewa motor hanya 300 Baht/hari)

One Day Full with Thanyalak Nunok Nongsin

            Dari pagi gue udah manteng nongkrong di lobby buat nunggu temen gue jemput, lama gue menunggu di lobby hotel, teman gue pun datang dengan sepeda motornya, kita pun berkenalan, Nunok namanya, dia seorang cewe, sebaya dengan gue, kulit hitam manis khas Asia Tenggara, berambut panjang lurus terurai mirip bintang iklan shampo  kadal  dan berpostur badan lumayan tinggi, awalnya gue berkenalan dengan dia di situs jejaring sosial facebook. Iseng-iseng cari cewe Thailand buat nemenin gue pas traveling, eh, dengan beruntungnya gue nemuin ID facebook-nya si Nunok ini, dan bisa bertemu juga di Thailand. Setelah berkenalan gue pun dibonceng untuk mengelilingi Phuket. Lets Rocking Phuket.

            Tujuan pertama kita adalah tempat makan, secara Gue dan Nunok belum sarapan pagi hari itu. Lumayan cukup jauh dari pusat Phuket Town kita makan di depan sekolah Nunok, sekolah Nunok ini berada di pinggir jalan, di depan sekolahnya pun banyak berjejer penjual makanan, hampir sama kaya sekolah-sekolah di Indonesia menurut gue.

            Menu sarapan pagi ini adalah Som Tam dengan harga 50 Baht/porsi, kalian tau Som Tam itu apa? Itu adalah makanan khas Thailand yang sekilas hampir mirip asinan Bogor dengan berbagai macam sayuran dan buah-buahan yang diiris-iris tipis, tapi bedanya Som Tam ini ditumbuk, dan yang anehnya lagi, Som Tam ini dicampur dengan kepiting kecil mentah yang digeprek. Som Tam disajikan dengan mie udon kering dan ketan, ditambah lalab-lalaban berupa kacang panjang mentah, kol dan daun kemangi. Seperti masakan sunda yah? Rasanya sih menurut gue sangat aneh dan bikin mual pengen muntah. Nah, cara makan kepiting kecil yang digeprek itu harusnya disedot aja, tapi gue malah di kunyah dan di telan, setelah gue liat muka Nunok yang keheranan sambil ketawa-ketawa, gue baru nyadar akan kebegoan gue.

Som Tam
            Selesai dengan sarapan yang bikin perut gue mual, kita melanjutkan perjalanan ke banyak tempat seperti Love Park, Wat Chalong (kuil Buddha terbesar di Phuket) disini gue ikut ritual sembahyang dan mencoba ramalan peruntungan dengan menggunakan banyak stick bernomer yang disimpan didalam satu gelas besar, lalu gelas itu dikocok-kocokan secara asal, nah, nanti kalo ada stick yang keluar dari gelas, kita liat nomer di stick itu, lalu kita ambil kertas yang disimpan disebuah lemari sesuai dengan nomer yang kita dapat, dikertas itu terdapat tulisan Thailand yang berupa ramalannya. Beruntung gue dapet ramalan yang baik hari itu. Hehe.

            Dari Wat Chalong, Nunok megajak gue mengunjungi Big Buddha yang berada di bukit cukup tinggi, ternyata disana sudah lumayan banyak turis yang berkunjung, selain melihat Big Buddha yang emang bener-bener besar sedang bertapa, disana ada juga beberapa patung Buddha kecil dengan bermacam-macam gaya, ada yang lagi tidur selonjoran mirip ibu kos nunggu bayaran, berdiri sambil menempelkan kedua tangannya, ada yang lagi melebarkan tangannya, dan masih banyak lagi style dari si patung Buddha tersebut. Nah, disana juga gue ketemu sama turis yang berasal dari Belanda, gue ngobrol-ngobrol dikit sama dia, setelah gue tanya, apa dia pernah mengunjungi Indonesia, dengan semangat menggebu-gebu dia banyak bercerita tentang Indonesia, dia pernah mengunjungi Bali, Kalimantan, Tana Toraja, sampai Papua pun pernah dia kunjungi. Dengan muka berseri-seri dia bilang kalo Indonesia sangat keren dan unik. Bangga kan jadi seorang Indonesia?

Gue dan Big Buddha

            Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, dan Nunok dengan semangat  mengajak gue melihat sunset di Phromthep Cape, tempat yang sangat indah bila lo dateng kesini berdua bareng pacar apalagi selingkuhan. Di Phromthep Cape kita bisa liat laut lepas Thailand, karena sunset viewpoint ini berada tepat banget di ujung selatan Phuket. Yang bikin gue nyesel, gak banyak foto yang bisa gue ambil, soalnya baterai kamera digital gue abis. Terlalu !!

            Dengan terbenamnya matahari di Phromthep Cape mengharuskan gue meninggalkan tempat itu, Nunok meminta gue untung mengendarai motornya kali ini, dan mengantarkan dia ke Blue Lagoon untuk casting sebuah film. Blue Lagoon adalah sebuah komplek perumahan di pinggir pantai, dan pastilah orang-orang kaya yang bisa tinggal disini. Dengan bangunan-bangunan rumahnya yang super besar dan mewah, juga terdapat banyak yacht atau kapal-kapal pesiar besar yang terparkir. Mirip Ancol gitu deh.

            Setelah casting Nunok selesai, Nunok tanpa lelah atau capek mengantarkan gue ke kawasan Patong dan mencari hostel murah disana. Sesuai dengan itinerary, gue bakalan nginep dua hari di Patong. Puter-puter mencari hostel yang murah, akhirnya gue menemukan satu hostel bernama Cheap Charlie, dari namanya aja udah kedengeran murahkan? Cheap Charlie berada di daerah ujung dari Patong, cukup jauh dari Jungcyloon Mall dan Pantai Patong, tapi sangat murah, hanya dengan 200 Baht/malam, Cheap charlie ini hostel yang sangat bergaya backpacker banget, selain dorm room super dempet-dempetan antara kasur dengan kasur, interior yang memajangkan banyak benda-benda unik seperti topeng dan patung kecil dari beberapa negara, disini juga tersedia bar yang nyaman untuk para tamunya. Gue pun mem-booking-nya untuk dua malam.

Nunok (Nice Girl)
            Dengan sebuah pelukan hangat, akhirnya gue berpisah dengan gadis baik hati bernama Thanyalak Nunok Nongsin. Thanks Girl.

            Untuk menghabiskan malam, gue mau main ke pasar malam Patong, disana sangat banyak berjejeran penjual makanan mulai dari halal sampai haram, minuman mulai dari jus sampai alkohol dan baju mulai dari baju anak sampe baju gajah ada di pasar malam Patong. Gue membeli nasi ayam rempah seharga 60 Bhat untuk mengganjal lambung gue yang udah merinding disko.

Pasar Malam Patong
            Gue melanjutkan berjalan kaki menuju Bangla Road, Bangla Road adalah nama sebuah jalan yang gak terlalu panjang, tapi Bangla Road ini menjadi pusat keramaian di Patong, mungkin Patong lebih tepat menjadi city point dibanding Phuket Town. Banyak bar dan restoran berjejer di Bangla Road, dengan para wanita berbaju seksi dan hot berdiri di depan sebagai front liner bar untuk menarik para turis berkenjung ke bar mereka. Karena gue bukan tipe orang yang suka party dan mabuk-mabukan sambil ngegrepe mbak-mbak cantik yang entah itu cewe asli atau bencong, gue pun hanya lewat aja di Bangla Road untuk menuju Pantai Patong. #PadahalGakGablegDuit.

            Desiran ombak, hembusan angin dan suara gesekan dari daun-daun kelapa yang berjejer sepanjang Pantai Patong yang sepi, membuat gue sedikit rindu sama seorang wanita yang gue suka di Bandung.

Ohhh..
this is how i feel
whenever i'm with you
everything is all about you
too good to be true

somehow i just can't believe
you can lay your eyes on me
if this is a fairy tale
i wish you will end happily


even know we are a part
i can feel you here next to me
here and now i will love
stay with me

let me love you with all my heart
you are the one for me
you are the light of my soul
let me hold you with my arms

wanna feel love again
wanna feel love again
wanna feel love again

and i know love is you
love is you
love is you
#NowPlaying Ten 2 Five - Love is You


(info : buat yang mau coba wanita nakal di daerah Patong, kalian bisa menggunakan jasa pijat plus-plus dengan harga 500 Baht sekali show. Tapi hati-hati, kalian harus memilih dengan jeli mana wanita mana lady boy. Salah-salah bukannya masukin, Eh, malah dimasukin. Kan perih. #17+)

Patong, Palakin isi Kantong

            Matahari sudah terik, membuat kamar yang gue tiduri ini berhawa sangat panas dan pengap, gue bangun agak siang hari ini, karena hostel yang gue tinggali ternyata sangat banyak vampir terbang (dibaca : nyamuk) ditambah dengan kasurnya yang keras, membuat badan gue agak-agak pegel dan gatel minta digaruk. Harga emang gak pernah bohong Boss.

Cheap Charlie's Room
            Obrolan ringan dengan pemilik guest house dan turis Jepang mengawali pagi gue hari ini. Entah kenapa, banyak yang kagum sama gue. Bukan karena gue ganteng atau pinter nari piring. Tapi kenapa orang bertampang lugu dan berumur belia seperti gue, berani-beraninya jalan sendiri ke Thailand, yang jaraknya dari Bandung, kira-kira 17 sentimeter kalo lo ukur di peta. #BeneranGueUkur.

            Oh iya, sarapan gue hari ini adalah Pad Thai, sejenis mie kwetiaw kenyal ditambah dengan oseng-oseng daging ayam dan campuran berbagai macam sayuran, Enak. Mirip Kwetiaw goreng sebelah rumah gue. Dengan uang sebesar 50 Baht, gue sekarang mempunyai cukup enerji untuk berkeliling Patong.

Pad Thai. Yummyyy..

            Jungcyloon Mall adalah tempat yang cukup menarik untuk gue kunjungi. Mall besar dengan arsitektur bergaya kontemporer futuristik disertai kompresor dan pintu koboy membuat kepala gue goyang-goyang minta ditiup. Ngomong apa yah gue? #Lupakan. Tapi disini, untuk pertama kalinya gue liat patung Ronald McDonald berpose dengan gaya kedua telapak tangan ditempelkan, kaya mau salam gitu. Aneh yah? Apa biasa aja? Yah gitu deh.

            Kenapa jauh-jauh ke Thailand kalo akhirnya gue malah main ke Mall? Sedangkan gue sendiri bukan anak Mall kaya abege abege kebanyakan. Tenang, otak gue gak sedangkal itu saudara-saudara, di Mall ini adalah salah satu cara gue mempelajari kebudayaan orang Thailand, kita bisa liat cara mereka berinteraksi bagaimana, apakah cara bersalaman mereka sama dengan kita? Cara mereka berjalan bagaimana, apakah dengan kaki atau tangan? Cara mereka menjual barang dan tawar menawar bagaimana, apakah langsung ambil barang dan malah si penjual yang ngasih uang? Atau kalo lo emang iseng gak ada kerjaan, lo bisa nyari tau cara mereka boker gimana, apakah berdiri? Handstand? Atau split?  sumpah, itu penting banget.

Nih mobil buat ngangkutin ikan di pasar -___-"
            Karena terlalu bete diem di Mall, Akhirnya gue berjalan kaki menuju Pantai Patong hanya untuk menikmati pemandangannya saja sambil duduk selonjoran. Kenapa gue cuma duduk dan diem kaya orang bego? Di Pantai Patong ini bukan tempatnya gue untuk berenang atau main air, tapi sebenernya bisa sih lo berenang dan main air, tapi di Pantai patong itu terlalu penuh dengan para turis yang berjemur, bahkan ampe ke bibir pantainya, jadi emang ga ada tempat enak buat berenang. Terlalu crowded. Polisi Pariwisata di Patong pun menurut gue sangat tidak bersahabat, selain mereka tidak bisa berbicara bahasa Inggris, saat ingin menitipkan barang pun gue dimintai biaya, padahal gue cuma nitip  bom sama bazooka  tas kecil unyu-unyu gue.

Patong Beach
            Karena tidak banyak lagi yang bisa gue nikmati selain deretan kursi pantai dan bokong para bule gemuk, akhirnya gue berinisiatif mencari tiket kapal ferry ke Phi Phi Island untuk keesokan harinya. Setelah putar-putar, nanya sana sini, tiduran dan guling-guling di aspal, serta membandingkan harga satu travel dengan travel lain, akhirnya gue mendapatkan tiket yang cukup murah disebuah perusahaan travel bernama Travel Company yang kalo dibahasa Indonesia-kan berarti perusahaan travel, Travel Company, atau orang bule sering nyebut Travel Company travel. Bahasa Inggris gue pinter kan?

(Info : sebagai seorang backpacker gembel, jangan malu untuk bertanya dan membandingkan harga satu dengan yang lainnya, jangan mudah mengambil keputusan sebelum lo membandingkan harga, at least tiga atau empat perbandingan harga dulu sebelum lo membeli sesuatu. Gue dapet tiket menyebrang ke Phi Phi Island seharga 300 Baht padahal di travel lain harganya bisa sampai 700 - 1200 Baht)

            Selesai dengan urusan tiket untuk besok, dan hari pun sudah mulai sore, gue jalan-jalan ke Jungcyloon Mall (lagi). Kali ini untuk melihat pertunjukan water laser, pertunjukan laser canggih tiga dimensi dengan pancuran air sebagai visualnya ini, hanya diselenggarakan dua kali sehari, 14 kali seminggu, 56 kali sebulan dan 672 kali setaun. Yaitu pada pukul tujuh dan sembilan malam. Sangat menghibur. Selain gue belum pernah menyaksikan pertunjukan laser canggih tiga dimensi, yang paling penting pertunjukan hiburan ini free of charge alias gratis !! Oh iya, pertunjukan laser disini bukan kaya laser mainan yang suka lo beli kalo lagi naik bis, terus suka ditawarin sama abang-abang keliling yang kalo lo pencet ada gambar cewe telanjang lagi tiduran atau gak, tulisan “I love you” kampungan. Camkan itu. #LantasGueEmosiGitu?

            Cacing di perut gue udah mulai demo minta makan, artinya gue harus segera nyari makanan buat nimpuk nih cacing biar gak demo lagi. Pertama gue mencari ke Bangla Road. Bangla Road ini, pada malah hari ditutup untuk kendaraan bermotor, karena pada malam hari, jalanan ini akan menjadi pusat keramaiannya Patong. Banyak turis berjalan kaki, penjual rokok yang menjajakan rokok *yaeaalah*, penjual souvenir yang berlalu lalang, sampai penjual kadal iguana juga ada. Karena di Bangla Road hanya ada restoran dan bar-bar super mahal, berarti gue harus meninggalkan tempat ini segera, untuk mencari makan yang lebuh murah.

Bangla Road
            Rat U-Thit, sebuah nama jalan atau daerah yang tidak jauh dari Bangla Road, disini banyak restoran yang murah meriah, karene hanya berbentuk seperti tenda-tenda di pinggir jalan. Banyak makanan halal disini, saran gue, lo coba aja makan di tenda yang menjual makanan-makanan melayu. Gue makan nasi goreng seafood, tidak jauh berbeda dengan nasi goreng seafood di indonesia, yang membedakan hanyalah cumi-cumi nya yang super besar. Sebesar perut gue yang membuncit setelah makan nasi goreng itu.

Nasi goreng Seafood dan Tom Yum punya orang sebelah
Phi Phi Don The Party Island

            Seperti biasa, gue bangun siang dari hostel sarang nyamuk ini. Tanpa mandi dan tanpa makan, juga tanpa berbusana. Gue langsung check out dan berjalan menuju ke tempat Travel Company, dimana sebelumnya gue udah beli tiket one way menuju Phi Phi Island. Mobil travel yang akan mengantar gue ke pelabuhan terlambat 30 menit. Sebelum pergi dari Travel Company, gue bercakap dengan pegawai berkelakuan seperti bencong di travel tersebut, dia menawarkan tiket terusan dari Phi Phi Island ke Krabi, dengan harga cukup murah, yaitu 200 Baht aja. Gak pake mikir matematika, gak pake nanya Ki Joko Bodo, gue langsung ambil itu tiket, karena gue tau, kalo beli tiket di Phi Phi Island, harga akan melambung tinggi.


            Perjalanan darat dari Patong menuju Pelabuhan Phuket meminum waktu satu jam. Kenapa gue bilang meminum? Bukannya memakan seperti pada lazimnya penulis-penulis lain? Karena di mobil, gue terus minum gak berhenti-berhenti. Panasnya udara Patong dan sesaknya mobil travel yang diisi full sama bule-bule berbadan besar, membuat gue menghabiskan satu botol besar air mineral yang gue bekal dari hostel.     

Rezeki di kapal ferry. Alhamdulilah yah..
            Di pelabuhan, gue langsung tuker tiket dari Travel Company dengan tiket kapal ferry yang akan menyebrang ke Phi Phi Island. Selain mendapatkan tiket kapal ferry, gue dikasih sticker bundar berwarna orange bertuliskan “Phuket - Phi Phi Island Tour”. Tanda bahwa kita adalah penumpang ferry dari Phuket, bukannya penumpang dari Cileunyi Bandung. Ternyata kapal ferry yang gue gunakan ini bukan seperti kapal ferry lintas pulau seperti di Indonesia. Kapal ferry yang gue gunakan, posturnya lebih kecil, hampir mirip yacht, berlantai dua, mempunyai satu kantin yang dimana gue membeli mie instan sejenis Pop Mie dengan rasa Tom Yum disini. Gue kangen makan nasi liwet sama sambel terasi. #Random

            Pulau yang waktu tempuhnya dua jam menggunakan kapal ferry dari Pelabuhan Phuket, dan dua detik kalo pake Buroq. Sampai di Phi Phi Island tepat pada pukul tiga sore. Saat tiba di pelabuhan, banyak sekali yacht dan speed boat yang terparkir dekat dermaga. Disini gue harus membayar 20 Baht untuk uang kebersihan pulau, tetapi sebenarnya tidak membayar pun tidak apa-apa.
Deretan kapal nelayan
            Jauh dari bayangan gue. Yang gue bayangkan, Phi Phi Island adalah sebuah pulau yang masih asli dan tidak banyak terekspos, dengan hutan belantara dan jalanan yang masih berupa tanah. Ternyata tidak, Phi Phi island adalah sebuah pulau yang sangat padat oleh store-store, kios kecil, toko, mini market, berbagai hostel dan bungalow, serta travel agent, scuba rent, sampai restaoran dan bar yang banyak membentang di sisi-sisi jalan setapak Pulau Phi Phi. Totally, rame banget banget banget.

Jalanan di Phi Phi Don
           Phi Phi Island ini dikenal juga dengan sebutan Phi Phi Don yang artinya adalah Phi Phi Besar, karena pulau-pulau disekitarnya berukuran lebih kecil. Menurut gue, suasana Phi Phi Island hampir mirip dengan Gili Trawangan di Lombok, dengan tidak adanya kendaraan bermotor, dan jalan beraspal. Satu-satunya kendaraan berroda disini hanyalah sepeda dan gerobak dorong dengan tulisan “taxi” yang digunakan untuk mengangkut barang barang para turis. Dengan konsep seperti ini Pulau Phi Phi sangat homey dan menyenangkan, betah gue tinggal disini, gak ada asap kendaraan. Paru-paru gue pun bisa tetap sehat *ngomong sambil ngerokok*.

Sekolah Membatik di Phi Phi Island?
            Gue berjalan menelusuri Phi Phi Island ini dari ujung ke ujung untuk mencari hostel murah, penginapan-penginapan disini sangat mahal, rata-rata harganya diatas 1000 Baht/malam. Tapi dengan niat yang teguh sebagai seorang backpacker, gue terus mencari hostel murah semurah-murahnya. Hingga pada akhirnya, I GET IT !! Gue menemukan sebuah hostel dengan konsep rumah, yang disampingnya terdapat studio tattoo, cocok banget buat gue.

Amanda Guest House
            Nama hostel ini adalah Amanda guest house. Entahlah kenapa namanya Amanda, apa yang punyanya orang Indonesia? Setau gue, di Thailand itu kan namanya aneh-aneh, gak mungkin juga nama yang punyanya Amanda, kan? Apa ini adalah salahsatu investasi Brownies Amanda yang terkenal di Bandung? Karena, mungkin di Bandung komoditi Brownies sudah mereka kuasi, maka mereka menginvestasikan uangnya dalam bentuk penginapan? Tapi kenapa harus di Thailand? Kenapa gak di Bandung aja yang jelas-jelas dekat dengan usaha mereka yang lain? Entahlah, kadang tulisan gue memang suka gak penting. Sebenernya sih ini cuma buat menuh-menuhin kertas aja, biar nyampe target standar banyaknya halaman buku. Very Smart Me !!

            Dengan duit 300 Baht, gue mendapatkan sebuah kasur di dalam ruangan dorm yang cukup besar, dengan dua belas kasur bertingkat dan tiga kipas angin besar. Beruntunglah saat itu tidak banyak turis yang menginap disana, karena kebayang kalo kamarnya full dengan tamu, maka dalam satu ruangan tersebut ada 24 orang manusia. Bisa berebutan udara buat napas kita.

Sunset Viewpoint
            Setelah istirahat sejenak dan membereskan barang, gue melanjutkan perjalanan menuju sunset viewpoint dengan berbekal satu botol air mineral dingin. Yups, sunset viewpoint adalah tempat paling nampol, dimana gue bisa ngeliat matahari yang sedang terbenam dengan sangat sangat indah. Biasanya berada di tempat-tempat tertinggi, seperti bukit dan gunung.

Sunset di Phi Phi Island
            Rasa lelah dan capek, karena harus menaiki ratusan anak tangga pun langsung hilang dan lenyap, karena saat sampai di puncak dan melihat matahari terbenam, adalah dimana gue melihat pemandangan yang sangat spektakuler. Warna langit biru yang berubah menjadi jingga kemerahan, serta lingkaran yang kita sebut matahari, sedang tenggelam secara perlahan dan hilang di balik dua bukit, membuat gue percaya. Lukisan Tuhan gak akan pernah bosan untuk gue nikmati. Mungkin ini adalah sunset yang paling indah yang pernah gue liat seumur hidup. Hebatnya lagi, ternyata disana gue bertemu kembali dengan Manu dan Mike yang sedang menikmati sunset. Setengah percaya, karena ternyata gue bisa bertemu lagi dengan mereka.

            Udara hangat saat matahari terbenam, sama dengan kehangatan pertemuan kembali, Gue, Manu dan Mike yang sedang menikmati masa muda, sambil menghabiskan sore hari di tempat tertinggi Phi Phi Island. Seperti biasa, mereka selalu ramah.

Mike dan Manu
Brushfire fairytales
Itsy bitsy diamond wells
Big fat hurricanes
Yellow bellied given names

Well shortcuts can slow you down
And in the end we're bound
To rebound off of we

Well dust off your thinking caps
Solar powered plastic plants
Pretty pictures of things we ate
We are only what we hate

But in the long run we have found
Silent films are full of sound
Inaudibly free

Slow down everyone
You're moving too fast
Frames can't catch you when
You're moving like that

Inaudible melodies
Serve narrational strategies
Unobtrusive tones
Help to notice nothing but the zone

Of visual relevancy
Frame-lines tell me what to see
Chopping like an axe
Or maybe Eisenstein should just relax

Slow down everyone
You're moving too fast
Frames can't catch you when
You're moving like that

Well Plato's cave is full of freaks
Demanding refunds for the things they've seen
I wish they could believe
In all the things that never made the screen

And just slow down everyone
You're moving too fast
Frames can't catch you when
You're moving like that

Slow down everyone
You're moving too fast
Frames can't catch you when
You're moving like that
Moving Too....

#NowPlaying Jack Johnson - Inaudible Melodies

            Thai boxing, olahraga beladiri khas Thailand ini adalah tontonan wajib kalo lo berkunjung ke Thailand, rasanya, puluhan bule berbikini di pantai gak sebanding kalo lo belom pernah nonton Thai boxing langsung di negeri gajah putih. Gue agak muter otak buat bisa nonton Thai boxing sewaktu di Patong, 1200 Baht adalah harga tiket untuk sekali menonton pertunjukan Thai boxing. Sangat mahal buat dompet gue yang tambah menipis. Nah, di Phi Phi Island inilah gue mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan Thai boxing secara langsung, gratis.

            Sehabis makan malam di daerah pasar rakyat di Phi Phi Island, gue sempat berkeliling-keliling dulu melihat-lihat puluhan restoran dan bar yang bertebaran banyak sekali di Pulau Phi Phi. Saat gue mengunjungi salahsatu kawasan sebelah timur pulau, gue melihat sebuah bar yang lumayan ramai dengan pengunjung, dan di tengah bar itu, ada satu buah ring besar yang lazimnya orang-orang pake buat tinju atau semacamnya.

            Ternyata, setelah gue masuk dan melihat kedalamnya lebih jelas, bar bernama Reggae ini memang menyajikan pertunjukan Thai boxing, live setiap malamnya. Karena gak mungkin juga gue nonton tanpa membeli apa-apa dari bar ini, gue akhirnya memesan satu kaleng beer seharga 50 Baht. Harga yang murah dibandingkan gue harus mengeluarkan kocek sebesar 1200 Baht hanya untuk melihat dua orang berbadan kekar adu tendang dan adu jotos.

Thai Boxing Arena di Reggae Bar
            Pertunjukan Thai boxing disini sangat seru dan menghibur, selain kita menyaksikan para petarung Thai boxing asli berkelahi dengan jurus-jurus mereka. Disini juga, kita bisa jadi voulenteer atau sukarelawan, yang nantinya kita akan disuruh berantem dengan turis lain. Beneran deh, cara ini random banget. Kita yang lagi diem duduk manis sambil nyeruput minuman, tiba-tiba bisa disuruh naik ring sama si wasit yang memimpin pertandingan, sekaligus jadi MC.  dengan hadiah satu ember minuman buat si pemenang. Gak sedikit juga turis yang pengen jadi voulenteer, mulai dari cowo bule berbadan tegak dan kekar, cowo bule berbadan gemuk dan pendek, sampai wanita latin berbadan seksi juga ikut-ikutan pengen jadi petarung Thai boxing dadakan.

            Guys, ternyata, nonton Thai boxing dengan petarung aslinya, langsung di depan mata kita itu ngeri-ngeri takjub gimana gitu, gue berasa lagi liat Naruto lawan Doraemon di video games. Dan ternyata juga, pukulan, tendangan, sikutan yang mereka terima bener-bener seriusan !! Malah ada yang sampai berdarah-darah. Uih, ngeri banget. Gara-gara liat pertarungan Thai boxing ini, gue gak berani cari gara-gara sama orang Thailand. Takut dijadiin samsak idup boo.

            Kelar ngeliatin tayangan berlabel “dewasa” selama dua jam. Gue jalan ke arah pantai sekedar buat nyari angin. Ternyata, bukan angin yang gue dapat. Puluhan sampai ratusan turis yang bercampur dengan warga lokal sedang menari-nari mengikuti hentakan musik yang keluar dari speaker besar, yang disediakan bar-bar di pinggir pantai. Pada malam hari di Phi Phi Island, para pengelola restoran dan bar selalu membuat acara di pinggir pantai. So, sepanjang pantai kita bisa menyaksikan para manusia sedang menari, menikmati malam mereka. It’s like a big beach party with a lot of bitch. Hehe.

Miras oplosan (Arak Thailand + Coke)

            Orang mabuk dimana-mana, kadang diantara mereka ada yang berkelahi. Dan jangan heran juga, apabila saat lo bangun pagi, maka lo bakal ngeliat beberapa bule sedang tergeletak tepar di tengah-tengah jalan. Apalagi kalo bukan karena semalam mereka mabok berat.

(info : carilah hostel yang murah dan jangan malu bertanya harga, gue aja nanya harga kamar ke delapan tempat dulu sebelum akhirnya menemukan satu penginapan yang murah)

(info : kalo lo pengen beli minuman beralkohol. di Phi Phi island, minuman dijual dengan bucket/ ember kecil dengan harga dari 180 Baht sampai 300 Baht. Jadi satu ember itu sudah paket berisi satu botol minuman keras, satu botol coke, satu gelas es batu dan dua biji sedotan. Absolutly, satu ember minuman udah cukup bikin lo jadi lupa balik ke rumah)

 (info : buat lo yang demen online dan gak bisa lepas dari internet, lo bisa memanfaatkan wifi di banyak restaoran yang tersebar di Phi Phi Island, tapi sebagian besar harus menggunakan password. Nah, untuk mengakalinya lo bisa coba masukin password sama dengan nama restoran tersebut. Dan, believe me its work !!! Ataupun kalo masih salah password-nya, lo bisa coba cara terjitu gue. Tapi urat malu lo harus bener-bener putus dulu buat coba cara nista ini. Begini caranya. Beraktinglah dengan masuk dan duduk di restoran tersebut, dan berpura-puralah untuk memesan makanan di restoran tersebut. Sambil milih-milih makanan di menu, lo tanya dulu deh password wifi nya. Nah, setelah si waiter ngasih password-nya dan lo udah nyatet password-nya. Sebisa mungkin pas si waiter meleng, lo buru-buru langsung cabut ninggalin restoran tersebut, dan cari tempat di luar, tapi masih di sekitaran restoran. Dan pada akhirnya, lo bisa dengan mudah mendapatkan password wifi-nya dan dengan bebas ber-internet ria tanpa harus membayar sepeserpun. Caranya nista banget sih, tapi buat gembel sih, malu nomer kesekian. Hehe)

Ini baru namanya liburan

            Seperti biasa, liburan gak bikin jam tidur gue berkurang. Gue tetep jadi orang yang kebluk dan suka bangun siang. Gue bangun sekitar pukul sepuluh siang, karena, pas subuh, para tamu di penginapan sempet kebangun gara-gara denger suara keras, seperti suara orang yang jatuh dari tangga. Ternyata bener aja, ada seorang cewe bule yang sedang mabuk, terjatuh dari tangga dan menabrak lemari piring hingga menimbulkan suara yang membangunkan seisi penginapan. Gue sempat ketawa juga, karena si cewe bule itu cuma pake sehelai kain yang dibalutkan ke badannya, dan saat terjatuh, otomatis kain yang membalut badan si bule itu terlepas, dan gak nyisain sehelai benang pun di badan si bule. Oops. Hehe. rezeki sebelum tidur itu namanya. Haha. Maaf yah miss bule.

Phi Phi Tsunami Memorial Park
            Agenda gue hari ini adalah mengelilingi pulau dengan menggunakan sepeda yang gue sewa dengan harga 100 Baht untuk satu hari penuh. Di Phi Phi Island, sepeda adalah satu-satunya alat transportasi yang diperbolehkan lo pake, gue berkeliling banyak tempat di Phi Phi Island, mulai dari ujung barat, terdapat Phi Phi Tsunami Memorial Park. Taman kecil untuk mengenang para korban tsunami pada tahun 2004 ini sangat tidak terawat. hanya taman kecil yang kotor dengan sampah yang berserakan, foto para korban tsunami yang disatukan diatas sebuah batu nisan besar, tertutupi oleh banyaknya daun dan ranting kering yang berjatuhan. Entah sudah berapa lama taman yang bersejarah ini dibiarkan begitu saja.

            Gue melanjutkan perjalanan mengelilingi Phi Phi Island dengan sepeda. gue mampir ke sebuah kedai kecil di pinggir pantai untuk menikmati breakfast yang gak keliatan seperti breakfast, karena jam di tangan gue udah nunjukin pukul dua belas siang. Dengan menu continental breakfast yang terdiri dari empat slice daging asap, dua potong roti panggang, mashed bean, pinapple juice dan secangkir kopi dengan harga 150 Baht. Menikmati sarapan di pinggir pantai dengan air yang biru kehijauan dengan tebing tinggi sebagai latar belakangnya. Membuat gue agak seperti bangsawan eropa. Sekali-kali gembel boleh dong agak mewah dikit. Hehe.

No Woman No Cry, No Diving We Cry
            Tujuan utama gue hari ini adalah mengikuti tour untuk mengelilingi pulau-pulau kecil disekitar Phi Phi Island. Sebelumnya gue udah dapet tiket untuk tour berkeliling pulau di travel agent milik orang Swedia, dengan harga 250 Baht. Harga segitu tuh, udah murah banget dibandingin travel agent lain yang rata-rata menawarkan paket tour dengan harga diatas 600 Baht. Seharusnya harga paket perjalanan ini memang 600 Baht. Tetapi setelah gue mengeluarkan skill memelas yang nenek-nenek berumur 25 tahun aja bakalan kasian sekaligus horny liat tampang gue. Dengan bercerita bahwa gue adalah solo backpacker dari Indonesia yang dengan uang pas-pasan berpetualang ke Thailand seorang diri tanpa sanak saudara, ditambah dengan sedikit berbohong kalo gue masih berusia 19 tahun. Maka pemilik travel agent itu, merasa iba sekaligus kagum melihat keberanian dan kenekatan gue, dan dengan otomatis pemilik travel agent itu memberikan gue harga khusus. Harga kasian lebih tepatnya.

            Perahu yang akan membawa gue berkeliling pun datang, ternyata banyak juga yang ikut tour ini. Mungkin sekitar 12 orang berkewarganegaraan asing ditambah satu orang pengemudi perahu, dan gue adalah satu-satunya bocah Asia yang mengikuti tour ini. Perahu yang mengantarkan gue berkeliling ini adalah sejenis perahu dompleng bermesin besar. Sebelum pergi, para penumpang dibagikan alat snorkeling dan ditempelkan sticker berbentuk segitiga berwarna ungu, sticker berfungsi untuk mengenali setiap penumpang di perahu. Kenapa harus pake sticker? Ini dikarenakan, banyak juga perahu lain yang mengangkut para turis, mungkin agar tidak tertukar perahu mana dengan penumpang yang mana. Ngerti gak sih lo tulisan gue? Gue aja bingung.

            Tempat pertama yang kita jamah adalah Monkey Beach. Kenapa namanya Monkey Beach? Karena di pulau ini terdapat banyak bergelantungan monyet-monyet liar, dan mereka sering kali mencuri makanan dari para pengunjung yang datang. Tapi gue heran, kenapa bisa ada banyak monyet di pulau ini? Jelas-jelas ini pulau kecil yang berada di tengah laut besar. Gue heran, si monyet itu kenapa bisa ada disebuah pulau di tengah laut? Darimana asal usul si monyet tersebut? Mereka pake apa nyebrang ke pulau itu? Apa mereka berenang ke pulau itu? Emang monyet bisa berenang? Nah untuk masalah ini silahkan lo yang jawab sendiri yah, nyet.

            Sesi ber-snorkeling dimulai di Viking Cave. Viking Cave ini adalah sebuah gua yang berada di sebuah tebing batu yang menjuntai tinggi dengan hanya sebuah jalan masuk yang pas gue liat ada sebuah orang bule sedang duduk santai didalamnya dengan sebuah pisang di tangannya. Sungguh serba sebuah.

Viking Cave
Gue yang nampak seperti makhluk luar angkasa
            Ber-snorkeling dilakukan di laut yang berkedalaman rendah, ber-snorkeling disini berbeda jauh dengan saat gue ber-snorkeling di Pulau Derawan yang memiliki beribu-ribu jenis terumbu karang. Disini, hanya sedikit terumbu karang yang bisa dilihat, ikannya pun gak sebagus yang di Derawan. Sempet gue berpikir, kenapa Indonesia dengan kekayaan dan keindahan alamnya yang melimpah, gak bisa menarik banyak para wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia. Tetapi, Thailand yang dengan “seapa-adanya” objek pariwisata mereka,  berhasil menarik banyak sekali wisatawan. Hampir lima kali lebih banyak dari wisatawan yang berkunjung ke Indonesia. Ah, kapan sektor pariwisata Indonesia ini maju seperti Thailand. *curhat sama ikan curut*

Maya Bay
            Tujuan akhir perjalanan gue dalam tour ini adalah mengunjungi tempat paling terkenal di Phi Phi Island, yaitu Maya Bay. Sekali lagi gue tanya. Kalian tau Maya Bay itu tempat apa? Maya Bay adalah tempat dimana pembuatan film box office Hollywood berjudul “THE BEACH” yang diperankan Leonardo Di Caprio dibuat. Ngiri kan lo? Awalnya, gue sangat exciting akan mengunjungi Maya Bay, udah kebayang di otak gue, gue bisa duduk di pasir yang si Leo dudukin. Gue bisa berenang di Laut tempat dimana Richard yang diperankan oleh Leo, berciuman dengan  Mpok Nori  Étienne yang diperankan oleh artis cantik asal Perancis, Guillaume Canet. Gue bisa berada di sebuah pantai sepi yang dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi. Tetapi gue agak sedikit kecewa, pantai yang diperlihatkan dalam film dan kenyataannya sangat jauh berbeda. Gak ada pantai di dalam pulau yang dikelilingi tebing tinggi, Gak ada pantai yang sepi dan nyaman seperti di film The Beach. Maya Bay hanyalah pantai yang diapit oleh dua tebing dengan ketinggian 100 meter di sisi-sisinya, dengan berjubel para turis yang mengunjungi tempat ini, membuat gue sedikit kecewa. Emang bener kata orang, Hollywood like Hollyshit.


Maya Bay
Keramaian di Maya Bay
Ciyeeeeeeeeeee bule ciyeeeeeee...
           Tapi harus gue akui, tempat ini emang pantas menjadi salah satu tempat yang menarik banyak turis berkunjung ke Thailand. Di Maya Bay, banyak sekali turis yang datang dan beraktifitas, mulai dari sekedar berjemur, jalan-jalan sekitar pulau, bermain bola, godain cewe, makanin pasir, jilatin batu karang, pacaran sama kepiting, sampai ada yang lagi manjat tebing. Di Maya Bay juga, terdapat satu buah tempat menarik, berjalanlah agak ke dalam pulau, dan lo bisa liat sebuah teluk kecil yang ada pulau kecil di sebrangnya. Yang bikin seru, pulau kecil itu mirip tetek nya cewe, tapi cuma sebelah. #UnyuMomment.
        
Pulau Toket
            Karena hari udah sore dan Maya Bay pun akan ditutup untuk para pengunjung ditambah suara si supir perahu yang udah manggil-manggil para penumpangnya, maka gue pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Phi Phi Island. Saat perjalanan pulang, perahu yang gue naiki berhenti di tengah laut, ternyata si supir perahu ini mengajak penumpangnya untuk melihat dan menikmati sunset di tengah laut. Saat-saat sunset seperti ini sangat gue nikmati. Tidak kalah indahnya dengan saat gue melihat matahari terbenam di atas bukit. Warna langit biru yang berubah menjadi jingga, warna jingga yang memantul pada tebing-tebing tinggi, matahari yang perlahan tenggelam seperti ditelan laut, serta bentangan horizontal laut tiada tepi sejauh mata gue memandang. Membuat gue merasa sebagai orang yang paling beruntung di dunia, karena, dapat sekali lagi menikmati lukisan Tuhan yang Maha Indah. Melancholy whispers.

Sunset di tengah laut
            Sekembalinya gue ke Phi Phi Island, gue bergegas menuju hostel dan segera mandi, karena badan gue udah lengket-lengket abis. Karena ini malam terakhir gue di Phi Phi Island, selain jiwa dan otak gue yang udah diberi kenikmatan luar biasa, saatnya gue buat ngasih kenikmatan buat perut gue. Restoran Matt’s Joint Grill menjadi jawaban buat perut gue. Restoran yang menyediakan makanan buffet all u can eat ini membuat gue kalap, kesetanan dan hampir kesurupan makan apapun yang disediakan di meja buffet. Total, dua jam gue nangkring dan bolak balik ngambil makanan. #OgahRugi. Dengan berbagai hidangan barbaque yang disajikan, perut gue pun serasa mau meledak, sumpah itu gue makan ampe tolol banget, ampe gak inget umur, ampe lupa ingatan, ampe hampir makan, ampe lupa gue ini anak siapa, ampe gue hampir makan sama piring-piringnya. Walaupun gue harus ngeluarin duit 350 Baht, tapi gue sangat enjoy pada malan itu. Sungguh malam yang indah di hari terakhir gue berada di Phi Phi Island, the Party Island. Gue jatuh cinta sama pulau ini.

Do you hear me,
I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

They don't know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I'll wait for you I promise you, I will

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we're in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

And so I'm sailing through the sea
To an island where we'll meet
You'll hear the music fill the air
I'll put a flower in your hair
Though the breezes through trees
Move so pretty you're all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
I'm lucky we're in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
Ooooh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
#NowPlaying Jason Mraz - Lucky

(info : untuk mendapatkan tiket tour murah, berkelilinglah untuk membandingkan harga, dan rekomondasi gue adalah travel agent milik orang swedia di dekat pintu gerbang masuk dermaga sebelah kiri)

(info: saat mengikuti paket tour keliling Phi Phi Island, setiap perahu akan dibekali minuman-minuman seperti air mineral, coke, fanta, sprite dan tentu saja minuman beralkohol “song tung” alias arak Thailand. Kita juga bakalan dapet buah-buahan segar seperti nanas dan semangka. Manfaatkanlah bekal ini untuk perbaikan gizi kalian)

(info: saat makan di Matt’s Joint Grill, terdapat empat kriteria harga untuk makanan buffet. Yaitu untuk pria, wanita, anak-anak dan lady boy !! Kalo mau makan lebih murah, menyamarlah jadi bencong. Di Thailand sendiri eksistensi lady boy sangat tinggi dan sangat dihargai. Sikap yang bagus dimana perbedaan bukan masalah bagi mereka)


Phi Phi – Krabi – Phuket Town

Mirip Shella Marcia kan?
            Dari tidur cantik gue pada malam hari itu. Gue langsung bergegas menuju dermaga untuk meninggalkan Phi Phi Island menuju Krabi dengan tiket terusan yang udah gue beli dari Travel Company saat di Patong. Di kapal ferry ini gue duduk di atas deck kapal yang terbuka, selain untuk menikmati pemandangan laut biru, pendorong utama gue rela berpanas-panasan duduk di deck terbuka adalah, cewe blesteran Thailand dan bule depok yang duduk di depan gue. Parasnya cantik, mungkin seumuran sama gue, dengan rambut panjang yang terikat dan berkulit sawo matang, dengan headset besar di telinganya dan dengan badan tinggi jenjang. Membuat udara panas menjadi adem dan panasnya terik matahari menjadi sapuan cinta yang romantis. Mungkin kalo di film kartun, mata gue udah menonjol keluar dari kepala, lidah gue udah menjulur panjang kebawah seperti karpet, dan diatas kepala gue udah ada balon-balon berbentuk hati. Cantik, mirip Shella Marcia. Sayang gue gak punya keberanian buat berkenalan. Mungkin ini yang namanya cinta pada pandangan pertama digabungkan dengan cinta diam-diam. #Lebay.

            Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam, akhirnya gue sampai di Krabi. Krabi sendiri adalah sebuah kota yang sepi, tidak banyak yang bisa dilihat disini, sama seperti Phuket Town, tetapi lebih sedikit bangunan. Gue langsung pergi menuju Terminal Krabi menggunakan ojek dari Dermaga Krabi. Ternyata di Thailand ada juga ojek yah. Alhamdulilah yah. <-- Syahrini Detected.

Krabi Harbour

            Ongkos bis dari Krabi menuju Phuket Town adalah 145 Baht. Selama menunggu, gue beli sebungkus roti dan air mineral untuk makan siang. Lama perjalanan dari Krabi menuju Phuket Town sekitar tiga setengah jam. Bis di Thailand, menurut gue sangat nyaman dan berbeda dengan bis di Indonesia. Dengan bis double deck (dua tingkat) yang memiliki kursi nyaman berbahan kulit, dua LCD TV di setiap deck nya, toilet yang bersih, ditambah bis ini pun memiliki ruangan VIP berukuran cukup besar, dengan sofa dan LCD TV khusus. Banyak yang bisa dilihat selama perjalanan menuju Phuket Town, seperti, patung-patung Buddha berukuran besar, kuil-kuil megah, serta pemandangan alam yang gak bisa kalian liat di Indonesia. Sungguh sangat tidak membuat gue mengantuk ataupun bosan.

            Sesampainya di Phuket Town, gue langsung menuju On On Hotel, gue sangat beruntung mendapatkan kamar disini, terlebih ini adalah hotel yang juga pernah di pake shooting film The Beach, dan hebatnya lagi gue mendapatkan kamar yang pernah dipakai oleh Leonardo Di Caprio. Sungguh sangat hebat !! Tambah ngiri kan lo?

Kamar Bekas Leonardo Di Caprio
            Selama trip gue di Thailand, akhirnya gue mendapatkan juga private single room, kamar yang bisa gue nikmati sendiri tanpa harus berbagi dengan orang lain. Kamarnya cukup luas, bersih, kamar mandi di dalam, kasur berukuran besar, ada kursi dan mejanya, dan juga ada kipas angin yang sekali cuma buat gue sendiri. Apa kalian pikir harganya mahal? Tenang, harga satu kamar disini lebih murah dibanding dengan harga kamar di Lub Sbuy Guesthouse, tempat pertama kali gue menginap di Phuket Town. Hanya dengan 250 Baht/ malam, lo udah bisa telanjang bebas di dalam kamar tanpa harus malu diliatin orang lain.

            Sore itu, gue ada janji bertemu dengan seorang teman dari Thailand bernama Nan. Sama seperti Nunok, gue kenal Nan dari facebook, (Thanks, Mark Zuckerberg). Nan adalah seorang wanita berumur lebih muda dari gue, berbadan gempal tetapi lucu. Nan mengajak gue berkeliling di Phuket Town menggunakan motor matic Scoopy-nya. Kita mengunjungi daerah pecinaan di Phuket Town dan berfoto-foto narsis disana, lalu Nan mengajak gue untuk mengunjungi pasar malam di daerah utara Phuket. Banyak sekali yang dijual disini mulai dari baju, souvenir, barang elektronik sampai makanan dan minuman keras pun ada. Entah kesambet setan apa, Nan ngajak gue ke Central Festival Mall. Gue yang gak suka main ke mall, akhirnya pengen juga ke mall, setelah Nan bilang mau traktir gue nonton. How lucky am i.

Gue dan Nan
            Nan ngajak gue nonton film Burlesque, film yang menceritakan tentang kehidupan wanita yang berkarir di dunia hiburan malam. (seengganya itu yang gue tangkep, soalnya subtitle nya pake bahasa Thailand dan gue gak terlalu ngerti bahasa Inggris). Usai nonton, Nan ngajak gue buat makan malam di restoran Phi Wan, restoran favorit Nan. Gue makan semacam ayam berkuah pedas dan asam, semacam sayur lodeh tapi berisi potongan ayam kampung, dan potongan ikan goreng yang kita lahap ludes. Gak heran kalo badan Nan emang gempal. Dan lagi-lagi Nan mentraktir gue, sempet gak enak juga, karena Nan terus yang mentraktir, tetapi yah apa boleh buat. Mumpung ada yang bayarin kenapa ngga. Hehe. Disini gue berdoa semoga cewe-cewe Bandung ini seperti cewe-cewe di Thailand, yang mau traktir cowo. Amin.


           Pukul sebelas malam, Nan mengantarkan gue kembali ke hotel, gue sempat berbincang-bincang sejenak dengan Nan di lobby hotel. Entahlah, perasaan gue aja atau emang bener, Nan ini suka sama gue guys. Dapat dilihat dengan cara dia ngajak ngobrol gue terus menerus dan nanya tentang, apakah gue masih single atau udah punya pacar. Coba kalo Nan tinggal di Indonesia, mungkin gue mau macarin dia. #SokLaku.

Hasil jepretan Nan (Chinatown)

            Lagi asyik-asyiknya gue ngobrol sama Nan, dengan terpaksa gue harus berpisah dengan Nan dan meminta izin untuk masuk kamar, karena gue kebelet boker gara-gara makanan pedes yang gue makan di restoran Phi Wan. Oh iya, sebelum berpisah, Nan menulis sesuatu dalam bahasa Thailand di note gue. Ada yang bisa artiin?

(info : dimanapun lo berada di Thailand. Saat lo mendengar lagu kebangsaan Thailand untuk menghormati Raja-nya, serentak lo harus berdiri tegak dan diam, gak peduli lo dimana dan sedang melakukan apa, lo harus langsung berdiri tegak dan diam. Saat di bioskop pun, sebelum film dimulai, ada lagu untuk menghormati Raja. Para penonton serentak langsung berdiri. Pertama gue gak ngeh kenapa mereka berdiri dan masih tetep duduk di kursi gue, tetapi setelah dicolek oleh Nan, gue pun akhirnya berdiri. Gak peduli lo dari Negara mana, lo anak siapa atau duit di rekening lo ada berapa. Lo tetep harus berdiri untuk menghormati Raja)

Bye, negeri gajah putih

            Hari ini adalah hari terakhir gue berada di Thailand. Gue harus packing untuk terakhir kalinya, karena gue akan menuju Bandara Phuket. Sebelum check out, gue ngopi sambil internetan dulu di kedai kopi bernama Kopi de Phuket yang berada di sebelah On On Hotel.

            Karena flight gue menuju Jakarta pada pukul delapan malam, dan itu masih lama banget. Gue memutuskan untuk berkeliling Phuket Town dulu dengan berjalan kaki sembari membeli sedikit oleh-oleh untuk orang rumah.

            Urusan mencari oleh-oleh ini harus pinter-pinter gue akali, dengan uang yang udah pas-pasan banget, gue harus pinter memilih barang yang gak terlalu mahal, tapi banyak. Gue belanja di kawasan pasar yang murah meriah, gue beli beberapa gantungan kunci dan baju bergambar bendera Thailand dengan harga 130 Baht. Pukul empat sore, gue berjalan ke terminal bis Phuket Town di dekat Lub Sbuy, hotel dimana pertama kali gue menginap.

            Dengan ongkos 85 Baht dan perjalanan selama satu jam, akhirnya gue sampai di Bandara Phuket. Di bandara, gue bertemu cukup banyak orang Indonesia yang akan pulang juga ke Jakarta. Seneng akhirnya gue bisa denger lagi dan ngobrol dengan bahasa Indonesia.

            Tepat pukul delapan lebih empat puluh menit, gue lepas landas meninggalkan negeri yang ngasih gue banyak pengalaman, dan perjalanan ke Thailand bukan sekedar perjalan buat ngisi liburan semester gue aja. Ini merupakan perjalanan gue buat mencari jati diri, buat gue ngerti apa yang hal yang bisa bikin gue interest. Dan setelah perjalanan pertama backpacking-an ke Thailand ini, gue punya cita-cita buat keliling dunia. Melihat lukisan apa saja yang Tuhan sediakan untuk umat-nya. Untuk bisa dinikmati, dipelajari, dihargai, hingga akhirnya bisa mensyukuri apa yang Tuhan berikan.

“Kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Karena kamu ber-hak menjadi apa yang kamu inginkan. The World is yours.”




79 komentar:

  1. Salut dengan perjalanannya :-) mudah2an aku juga bisa travel sendiri.

    BalasHapus
  2. hehe makasih yah mas mbak kaka ade tante om, yah ga ada yang ga bisa..semua pasti bisa hehe..

    BalasHapus
  3. wah kere deh, salut yah :D akan diikuti deh jejaknya nanti, renananya mau ke thailand juga tahun ini.
    btw, itu ketemu teman di thaialnd dari mana? couchsurfing kah?

    BalasHapus
  4. wah thanks yah, saya ketemu dengan teman itu lewat facebook, saat itu saya belom kenal sama couchsurfing hehe..tapi ya itu keuntungan punya teman disana, bisa diajak jalan-jalan dan dikenalkan sama kebiasaan orang lokal :D

    BalasHapus
  5. wew qren bgt perjalanan nya...
    jd kepengen deh :(

    BalasHapus
  6. hehehe makasih rima :D gass pooolll ke thailand langsuuuung !!!

    BalasHapus
  7. nice posting..

    senyam senyum nie baca tulisan mu bro..
    huaaa..
    your my inspiring..

    pngen deh solo backpacker..
    tapi masih belum ada keberanian.
    zzz

    BalasHapus
  8. @adhit : hehe makasih bro buat semua pujiannya, terharu nih saya *ngemilin tissue* hehe..

    anyway, buat masalah keberanian, ga usah banyak dipikirin bro. langsung cabut aja, percaya ga percaya, nanti bro adhit bakal berani sendiri, malah bakal menikmati semuanya.

    BalasHapus
  9. manu and mike nya ganteung :p

    BalasHapus
  10. @anonim : hehehe adis nya gak ganteng nih? hahaha..ada tuh kalo mau add FB manu sama mike di FB adis

    BalasHapus
  11. bro gue pengen nanya nihhhhhhhhh. kalo private single room itu bisa di pake buat dua orang ga? artinya ga masalah gue sempit2an di kamar juga, asal isinya cuma gue berdua gitu. terus kalo dorm room di phuket sono tuh isinya pasti sejenis cowo semua, atau mungkin dapet ada cewenya sih? hehehe infonya dong brooooo

    BalasHapus
  12. wah seru banget bro.... so inspired... ada YM ga, wish to talk with you bro.

    BalasHapus
  13. @muftistory : dah ane jawab via message FB yah bro :D

    @anonim : ada bro, disco4fun
    di blog ku ini juga ada ID ID medsoc yang lain kok, cek aja

    BalasHapus
  14. hei. kebetulan gue ada plan sama temen2 mau ke phuket. gue mau nanya kalo yg hostel lub sbuy itu ada private roomnya gak sih ? terus itu kamarnya dicampur cewek cowok atau gak dicampur? satu lagu bathroomnya di dalam kamar atau diluar ? mohon infonya ya. makasih :)

    BalasHapus
  15. hai..gue bantu jawab yah, lub sbuy ada private roomnya, untuk dorm room nya cewe cowo dipisah, dan bathroomnya diluar kamar..tapi nyaman dan sangat bersih, untuk private roomnya mungkin ada bathroom didalamnya juga. kalo mau ada yang ditanyain lagi tinggal mention ke @takdos aja yeee

    BalasHapus
  16. mas kalo boleh tau ke thailand abis berapa tuh.. hehe rencana september besok jg mau ke thailand

    BalasHapus
  17. @anonim : ke thailand waktu itu abis 1,3 juta buat 8 hari hehe..

    BalasHapus
  18. wah keren nih
    bang itu serius cuma 1.3 jtan? udah include ongkir? eeh ongkos PP maksudnya
    haha pengen banget ke thailand tapi mikir budget, tapi setelah baca blog lu inspiring bang, mantab dah.
    btw minta tips bedain lady boy sama cwe asli dong ahahaha

    BalasHapus
  19. @donny : hehe makasih yoo, itu belom sama tiket. soalnya kan tiket fleksibel tuh jadi ga gue cantumin harganya, tp tetep murah kok.

    tunggu buku gue yang keliling Asia Tenggara 24 hari cuma ngabisin 2,7juta !!

    cara bedain lady boy sama cewe asli?? lo pegang aja kelaminnya.. :p

    BalasHapus
  20. ooh gw kira haha, iya tiket fleksibel apalagi nunggu pomosi kaya hunting apa gitu haha

    gw pengen banget backpacking sendiri, tp karna blm ada pengalaman jd mau nanya2 dulu.

    kayaknya harus mulai bergerak nih, doain liburan smester ini gw nyasar kebali ato lombok hha

    asiik bukunya, gw tunggu deh. udah naik cetak apa masih draft bang?

    haha kalo yg kepegang kelaminnya lady boy terus dia nepsong gmane dah haha.

    BalasHapus
  21. udah mau cetak broh, awal maret lah hehe

    BalasHapus
  22. wah, dikit lagi kasih kabar ya rilisnya kapan hhe
    gw udah add fb di approve ya :D

    mau nanya dong ini yg ke phuket first trip lo ke luar negeri?
    hmm ga ngerasa aneh ato gimana gitu jalan sendiri di tempat yang blm pernah kita datengin?

    BalasHapus
  23. ke luar negeri udah ke malaysia sebelumnya tapi bukan backpackan. nah ke thai itu yang kedua berarti. ga lah orang hampir sama kok suasananya sama di Indo, jadi ga aneh hehe

    BalasHapus
  24. oh gitu :D wah parah ni bikin pengen
    hhe
    nabung dulu deh gue, ngurus paspor terus coba backpacking ke luar negeri

    BalasHapus
  25. thank you2 blognya udah buka paradigma baru buat gw
    ternyata traveling ga semahal yang gw bayangin
    terus inilah caranya nikmatin hidup, hidup cuma sekali bro, lu beruntung udah bisa nginjekin kaki di berbagai negara

    sekarang gw harus berani nih mulai traveling, soal budget ya bener kata lu di blog ini, dicukup2in aja, toh mau traveling bukan shoping :D

    BalasHapus
  26. @donny : hehe thanks bro..
    lets traveling, liat dunia lo, bukan cuma yang lo tempatin sekarang..

    BalasHapus
  27. donny olympas1 Maret 2012 03.14

    pasti bro, phuket ni juga salah satu tempat yang pengen gw kunjungin

    oh iya mau nanya kalo first trip gw ke singapore
    tapi budget dibawah 1jt cukup ga ya? diluar ongkos PP

    BalasHapus
  28. @donny : cukup lah, gue aja bawa gope 2 negara cukup broh

    BalasHapus
  29. mau nanya, kalo nginapnya di phuket aja trus cm ngikut tour ke phi phi, bisa ga? apa harus nginap di phi phi island?

    BalasHapus
  30. oh iya, akun FB sm twitternya apa?

    BalasHapus
  31. @winda : kalo nginep di phuket doang bisa sih ikut tour phi-phi. :D

    twitter : @takdos

    BalasHapus
  32. bray.. kalo mau backpack ajak2 dong, mau cobain melancong tanpa keluarga T_T
    sayah juga asli USA brayy.. hehe kalo solo backpack blah bloh keneh :')
    keep inspiring people berohhh!!!

    BalasHapus
  33. MUAHHAHA urang sunda asli? hahahaa... ayok ayok~

    BalasHapus
  34. 1,3 juta dan lo udh bisa ngedatengin semua tempat2 itu? brilliant!! tp harus tahan laper kali yee ahhaha dikit amat makan nya.

    BalasHapus
  35. @Mrs. Baldie : hehe, kebetulan gue bukan orang yang sering makan :D

    BalasHapus
  36. maaf mas koreksi dikit ya cewe cantik itu namanya Francoise diperankan oleh Virginie Ledoyen, sedangkan Étienne (Guillaume Canet) itu yang meranin pacarnya Francoise.

    blognya kocak banget, ngakak sendiri pas bacanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini dia, udah lama gue nunggu nunggu yang ngoreksi. Emang sengaja disalahin kok. #halah #ngeles hehe..btw, makasih yaaak..beli bukunya juga dooongs~

      Hapus
  37. Bro Keren Banget Perjalanannya! Terinspirasi nih! Good Job

    BalasHapus
  38. nicely written & very entertaining...jig ikutan stand up comedy ! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah beli dong bukunya kakak~ ah, say aga bisa ngelucu kalo depan orang, malu :">

      Hapus
  39. haha baru ngeh di post lu yg ini, kq kayanya gw kenal jg ama anak UI itu ya dis, eji ama saras .
    eji kecil putih ya dis orgnya?

    BalasHapus
  40. Nice stories, mas bro :D
    Jadi pengen langsung cabut ke Thailand, doain yak ada mukjizat dapet tiket murah ;;)

    P.S : Mau sedikit ralat kalimat lo yang mengatakan "Étienne yang diperankan oleh artis cantik asal Perancis, Guillaume Canet" itu salah, karena bawasannya kalo Guillaume itu adalah seorang pria tulen, dan yang ciuman sama Richard itu adalah Françoise a.k.a Virginie Ledoyen~

    Ciao! ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaaaaaah iyaaa berarti aku salah muehehehe..maap yaaak~

      Hapus
  41. Bro..gimana carany nyari temen yang mw langsung ketemu tu?
    apalagi temen dari liar negri..

    BalasHapus
  42. rencana mau kemana lagi neh dis???
    mau dong jadi travel mate nya...
    w cewe tapi jauh dari manja koq...
    kabar2i yaahhh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe gak tau nih, ikut gue mah ribet. ngegembel banget :))

      Hapus
  43. bakat bwt buku panduan jalan2 ala backpacker kamuuhhh

    BalasHapus
  44. Kak, emangnya note yang ditulis sama kak Nan itu artinya apaan?#KepoBanget

    BalasHapus
  45. whuaghaha!!!ngakak sampe kebelet pipis baca ceritanya...btw,instingnya mas adis kyaknya beneran (setelah liat angle foto Nan dan garis senyum bibir#hahaha), klo Nan suka sama mas'e# sudut pandang sbg cewek yg sok tau banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya emang suka sih kayaknya.. note nya juga bilang gitu hahahaha

      Hapus
  46. bang, kalo mau gabung forum backpacker masuknya mana ya?
    masih pemula nih, lagi cari temen buat melalang buana kaya abang yg satu ini :D

    BalasHapus
  47. btw ke sananya mas brow pake Visa On Arrival, ngurusnya di di indo pa dah sampe sana and nunjukin dokumen pa aja ?????

    BalasHapus
  48. btw ke sananya mas brow pake Visa On Arrival, ngurusnya di di indo pa dah sampe sana and nunjukin dokumen pa aja ?????

    BalasHapus
  49. bro kalo dari KL -hatyai - phuket naik kereta apa bus ? dan berapa jam perjalanan KL - phuket ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kl - Hatyai - Phuket pake bus aja. Hemmm.. Phuket nya mana dulu nih? Mayan lama sih bisa lebih dari 12 jam

      Hapus
  50. gokil haha.. btw liburan semester gw mau kesana berdua bareng temen, tapi masih parno gitu.takut keabisan uang terus gabisa balik indo T.T
    eh bang dulu dapet tiket pesawat buat PP berapa harganya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. yakaliiiiiiiii...

      hemmm, dapet di bawah sejuta kok PP

      Hapus
  51. asliii gw ngakak tiap baca ulasan loe bro...
    GOKILLL banget...
    mateb pake b bukan pake p :)

    BalasHapus
  52. gokil...
    kasaih tau list biaya yang harus dikeluarin dong.

    BalasHapus
  53. bang gue mau tanya dong kalo dr KL mau ke bkk atau phuket mending kmn dlu?gitu enakan plg drmn?oya kalo untuk book hotel harus by credit card yah??thaaanks bang mohon pencerahan haha

    BalasHapus
  54. Setelah 3 hari mencuri waktu kerja buat baca post ini, akhirnya hari ini kelar juga... (gw ga baca bagian lirik2 lagu)
    satu kata: keren!

    BalasHapus
  55. mana coba kirimin surat yg dari nan, nanti tak bantu artiin

    BalasHapus
  56. Wkwkwk ancuuurr...gila tulisan lo bkin bikin gw ngakak guling2 di tangga...inspiring bgt, 4 jempol bwt lo

    BalasHapus
  57. postingan lo bikin ngakak broo...tapi bermamfaat. mantaabb..

    BalasHapus
  58. Hahaha, tulisan nya keren, kocak bro

    mampir di blog jalan-jalan gw ya: http://zoera-tourtravel.blogspot.com

    BalasHapus
  59. Eh gimana caranya lo bisa kenal org di thai lewat fb secepet itu, sampe lu bisa diajak keliling brg phuket+ditraktir lagi? Pake pelet lu ya. Ngaku lu ngedukun dmn hehe

    BalasHapus

  60. This is a great blog posting and very useful. I really appreciate the research you put into it.Superb!
    zell v platinum plus yang terbuat dari ekstrak sheep placenta

    .satu satunya produk anti aging terbaik yang ada di Indonesia dan yang pertama di Asia, dan
    phytogreen

    BalasHapus