Gunung Tambora #3 (Makin Mistis !!)


Segelas kopi, 2 bungkus rokok, playlist winamp yang asyik, menemani gue bercerita tentang kelanjutan perjalanan gue di Gunung Tambora. Perjalanan sarat petualangan.

Lanjutan cerita gue di Tambora..

Pada pukul 3 subuh, sentuhan tangan dingin dari Bang Wawan, mulai menggerayangi tubuh gue, membangunkan kita berlima dari tidur lelap. Bang Wawan terbangun terlebih dahulu karena dia mendengar ada suara banyak orang yang lagi jalan. Kaya lagi latihan baris-berbaris gitu, di lembah belakang bale-bale kita, kata Bang Wawan sih itu suara berasal dari para tentara Jepang yang sedang berjalan menelusuri Tambora.

Memang sering sekali suara-suara aneh bin misterius terdengar di pos 3, selain suara tentara jepang yang sedang berjalan, suara tangisan dari Siti, bocah wanita bisu dan gesrekan pepohonan yang seperti sedang dilalui babi hutan pun sering terdengar di keheningan malam. Tapi bagi gue, suara yang paling mengganggu adalah suara dengkuran salah satu dari kita. *uhuk* #NoMention

Pukul 3 subuh kita sudah terbangun semua, sedikit menggelinjang untuk meregangkan otot yang kaku karena tidur meringkel, kita pun siap dengan Summit Attack Tambora !!

Pos 3 Yang Horror !!

Kenapa harus pukul 3 subuh ?? Soalnya selain itu angka yang cantik (cantik dari hongkong), kita pun bakalan ngejar sunrise di Puncak Tambora yang walaupun pada kenyataannya kita boro-boro nyampe puncak tepat waktu.

Persiapan sudah di packing dalam satu backpack, kita cuma bawa beberapa hal penting saja seperti, air minum buat meredakan dahaga, biskuit buat ganjel perut yang lapar, bendera Indonesia yang bakalan gue kibarin di puncak, passpor yang siapa tau diatas ada pengecekan imigrasi dan badak jawa buat gue bakar.

Perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 dihiasi dengan langit yang gelap gulita, gak ada penerangan sama sekali dari bulan. Track dari pos 3 menuju pos 4 ini agak bikin gue nyinyir kewalahan, gimana nggak !! Pacek penghisap darah memang sudah gak ada sekarang, tapi yang bikin perjalanan makin tambah berat adalah jalan tanah yang lebih licin disertai curam-nya tanjakan dan jurang yang menganga dipinggir kiri gue semakin membuat tegang perjalanan ditengah kegelapan malam.

Selain jurang yang fix bakal bikin gue mati konyol kalau nyuksruk !! Daun Jelatang juga gak kalah nyeremin, buat lo yang suka naik gunung, jangan bilang pendaki gunung sejati kalau belum pernah kena sapuan Maha Dahsyat dari daun jelantang. Daun selebar daun sereh ini punya banyak duri tipis diseluruh bagiannya, mulai dari batang, dahan sampai daun-nya. Jangankan megang, kena sapuan-nya dikit aja, gue bisa nangis nahan pedih, panas, gatel dan horny. Sumpah !! Kena daun jelantang tuh kaya lo kena hukum cambuk di Aceh gara-gara merkosa kucing. Hal sepele tapi bikin meringis !!

Duri-nya bikin unyu !!

Bayangkan saja, sejauh dari pos 3 sampai pos 4 yang gue lewatin adalah hutan lebat jelatang si daun setan !! terhitung 4 kali gue kena daun jelatang, dan 4 kali juga gue merasakan kepedihan yang teramat. Gak heran kalau kita harus sering jalan jongkok, nunduk, loncat, salto, hand stand dan jalan tiarap buat lewatin hutan jelatang. Percayalah kawan, daun jelatang di sisi kiri, kanan, atas dan bawah, akan menyambut lo dalam perjalanan menuju pos 4 !!

Penderitaan akhirnya telah usai, gue sudah berada di tempat peristirahatan pos 4. Beberapa langkah sebelum sampai pos 4, Mbak Sophie, pemandu gue serta merta mulutnya komat kamit bilang "astagfiruloh hal adzim" !! Hemm..ternyata Mbak Sophie melihat ada 3 sosok menyerupai manusia berpakaian lengkap seperti pendaki gunung, telah menunggu kita di pos 4. Tentu saja Mbak Sophie gak berteriak histeris, dia cuma menutup matanya tanda ketakutan sambil berlalu begitu saja. Gue ?? Cuma senyum mesem liat kelakuan Mbak Sophie (padahal takut juga) -___-"

Hutan Jelatang di Pos 4

Kami beristirahat sejenak di pos 4 dengan menggelar sebuah terpal plastik untuk alas duduk, kejadian misterius gak sampai di Mbak Sophie saja. Setelah terpal di gelar, Kak Nora langsung mengambil posisi terlentang di sebelah gue tanda dia kecapek-an dan dilanjut dengan tidur hingga mendengkur keras. Gue, Bang Diki, Bang Wawan dan Mang Daung cuma ngobrol-ngobrol sambil ngemilin biskuit. Sementara Mbak Sophie duduk meringkel kedinginan.

Istirahat selesai, Bang Wawan meng-komando-i bahwa kita harus siap-siap bergegas melanjutkan perjalanan. Kak Nora yang mendengar komando dari Bang Wawan langsung bangkit dari tidur lelap-nya, sambil nyanyi-nyanyi, Kak Nora langsung ngembat biskuit yang kita makan. Tak ada sedikitpun tanda kalau dia baru banget bangun tidur. Kita berlima pun cengo keheranan.

Ternyata setelah turun dari gunung, Kak Nora cerita kalau dia sama sekali gak tidur waktu di pos 4, dia tahu kita bercanda sambil makan biskuit, dia tahu kita lagi ngomongin apa, dan dia tahu kalau gue adalah power ranger biru !! Kak Nora tahu semua !! Dia gak tidur !! Dia bangun !! Dia terjaga selama di pos 4 !! *suasana semakin mendebarkan dan tegang*

Lalu, siapa yang tidur di sebelah gue ?? Siapa yang mendengkur ?? Siapa yang Gue, Bang Diki, Bang Maman dan Mang Daung lihat itu ?? Siapa yang masukin Rusa Afrika ke pantat Roy Suryo ?? Siapa !!?? Siapa !!?? Siapa !!?? *kamera zoom in-zoom out*

Allahualam..mungkin itu jelmaan Mak Erot yang lagi naik gunung !!


Berhubung gelas kopi gue tinggal sisa ampas-nya doang, dan rokok gue sudah habis di cemil. Akhirnya gue harus kembali menyambungkan cerita gue di Tambora ini di postingan selanjutnya. Gue janji, postingan berikutnya adalah postingan terakhir gue tentang Tambora. Dan akan lebih banyak lagi foto-foto keren yang gue jamin bikin lo ngiler tujuh turunan. So Guys, please enjoy it :)

 N.B : Beberapa foto di-postingan kali ini gue ambil dari google, waktu itu boro-boro pengen foto-foto, yang ada tangan gue terus dimasukin ke saku jaket soalnya dingin banget !!


12 komentar:

  1. Woi buruan dilanjut tulisannya..penasaran ni!! Puncak Tambora kaya apasih? Keren gak keren ga? Susah ga perjalannya? Dingin gak diatas sana? *bentar lagi ditoyor adis

    BalasHapus
  2. daun jelatang itu bukannya lalapan spesial di rumah sambel? ternyata asalnya dari sono.. hmmm!

    BalasHapus
  3. @Bang diki : *selengkat Bang Diki* nantikan kisah selanjutnya..huehehehe..

    BalasHapus
  4. @brajanoto : lah emang bisa dibikin lalap? gila super banget yang bisa makan daun jelatang -___-"

    BalasHapus
  5. Gak sopan! Mostingnya dikit-dikit, bikin penasaran aja -,-

    BalasHapus
  6. @Mbak Desi : hahaha udah tuh mba udah tamat cerita tamboranya hehe

    BalasHapus
  7. @hendy HIDUPPPPPPPPPPPPP !!

    BalasHapus
  8. untung bukan daun jelalatan ya.. kalo ampe kebawa ke kota dan ditaro di mol akan nyusahin cewek2 kece ibukota *halah apaini*

    BalasHapus
    Balasan
    1. halaaaah~ hahaha..kalo naik gunung kudu coba kena daun ini kak. biar merasakan sakit yang lebih sakit dari diputusin pacar. halah~

      Hapus
  9. wih jadi bingung sereman yang mana antara kejadian mistis itu sama kena daun jelatang :O

    BalasHapus