Haters = Motivator Terselubung


eheeeem.. uhuuuk.. eheeeem.. heeeemm..

*minum konidin*

Oke. Gue bakalan mulai nulis nih guys,
Sebenarnya gue gak pengen tulisan ini ada di blog gue, cuma yah bagaimana lagi, daripada gue nulis di tembok kamar kan mending gue nulis disini. Tapi intinya bukan itu guys, gue nulis disini karena memang ada yang harus gue tulis. Biar apa? Biar semuanya jelas, dan mungkin bisa jadi pelajaran juga buat gue dan kalian. Terus di postingan ini gue mau nulis apa? Okay mari kita mulai..

Mungkin memang kesalah pahaman, mungkin juga memang disengaja. Ada yang salah tanggap karena tidak bertanya langsung ada juga yang asal nebak hingga masalah menjadi tanggung.

Entah darimana bakalan gue mulai membahasnya. Mungkin semua berawal dari twitter. Dulu gue pernah berdiskusi cukup seru dengan beberapa orang teman di twitter tentang masalah guide book for traveling. Gue suka diskusi, walaupun gue sendiri dan berdiskusi dengan banyak orang, walaupun diskusinya panas, pasti ada pembelajaran yang gue dapet dari situ. Awalnya diskusi memang on topic, membahas guide book. Namun lama kelamaan makin banyak orang yang nimbrung dan asal jeplak. Gue mulai gak nyaman dengan diskusi itu, lalu gue memutuskan untuk menyudahinya dengan cara meminta mereka yang kontra untuk bertanya kepada penulis guide book langsung (kebetulan penulis guide book itu temen gue), biar jelas dan selesai. Adil !!  Seperti apa yang gue lakukan ketika gue gak suka perkataan dari penulis buku Miss JingJing, gue langsung ngomong ke penulisnya. Gak ada yang marah, diskusi selesai, masalah selesai. Karena gue udah bersikap biasa lagi dengan mereka, pun begitu sebaliknya.

Namun ternyata masalah belum selesai buat mereka. Bukan lagi masalah diskusi kemarin yang mereka bahas, malah mereka bahas masalah pribadi. Ngata-ngatain trip-trip yang gue lakuin, menjelekkan gue dan sebagainya, dan gue sama sekali gak respon itu, soalnya gue tau kalau gue respon mereka, masalah bakalan lebih ricuh. Setelah gue menerbitkan buku WIB, ejekan dan olokan mereka semakin menjadi. Entah apa motivasi mereka. Malah ada diantara mereka yang bilang..

"Trip murahan..bla.. bla.. bla.."
"Yaelah, bikin buku indie doang bangga.."
 "blaa.. blaa.. bla.."
dan sebagainya,

Gue masih bisa tolelir dan bersabar kalau mereka ngejek gue secara pribadi. Karena gue anggap itu cuma haters! Tapi nggak dengan karya gue. Jelas gue bangga bisa bikin dan punya buku sendiri, walaupun itu indie publishing. Gue bikin buku WIB itu selama setahun lebih, dengan segala usaha yang gue laukkan untuk membuat buku tersebut. Karya gue, pasti gue hargai sebagaimana gue selalu respect kepada semua orang yang terus berusaha untuk berkarya, mengejar mimpinya.

Be thankful for having haters, they are the ones who take time out of their lives to watch your wrong moves.

Semua cibiran mereka gue terima tanpa gue balas sama sekali. SAMA SEKALI GAK GUE BALAS. Mereka mention langsung berkali-kali pun nggak gue gubris. Karena gue tau, mereka akan senang kalau gue respon dan terpancing oleh hasutan mereka. Tapi terkadang walaupun kita sudah bersikap legowo dan santai, para haters itu semakin menjadi-jadi mencibir buku gue di twitter. Bagi mereka, kesenangan mereka bersama adalah apabila melihat gue mencek-mencek kebakaran jenggot karena cibiran mereka. *pura pura sedih*

Tapi karena katanya "sabar ada batasnya" yah mendidih juga darah Sumatera gue. Maka gue telepon langsung orangnya, karena telepon gak nyambung terus gue mention lah langsung via twitter, karena cuma itu cara yang ada dipikiran gue waktu itu. Gue ajak mereka langsung ngomong personal, gak cuma bacot di twitter. Gue kasih langsung nomer telepon atau langsung ketemuan, karena bukan dengan bacot apalagi di twitter cara lelaki menyelesaikan masalah.

Dan seperti sikap seorang pengecut lainnya, tak ada satupun yang telepon atau sms untuk bicara langsung walaupun udah gue kasih nomer telepon gue. Saat gue tanya langsung pun mereka malah pura-pura tidak tahu apa-apa dan bersikap bodoh. Oh, memang beginilah sikap pengecut.

Jadi bukan karena masalah traveling apapun yang bikin gue emosi. Tenang, gue gak sedangkal untuk berpikir bahwa traveling adalah perlombaan, rasa lebih bangga, atau apapun itu. Emosi gue terjadi, cuma karena satu hal. Gue gak suka orang yang cuma berani bacot di twitter dan bukan menyelesaikan masalahnya secara personal dan langsung. Kalau berani nyinyir atau bacot di twitter, lo juga harus punya keberanian ngomong langsung sama orangnya. Itu baru fair dan bukan banci !!

Gue terus nunggu respon secara personal dari mereka, namun tetap tidak ada sama sekali. Gue tarik napas panjang, dan gue nganggep mereka memang tidak berani menyelesaikan masalah secara personal dengan gue. Dan kebetulan waktu itu gue chating dengan Bang Yudi, dan gue dapet nasihat yang keceh untuk bersikap dewasa. Maka gue berinisiatif terlebih dahulu meminta maaf, mungkin karena terlalu emosi.

Sekarang gue punya prinsip. Terserah orang mau bilang apa tentang karya gue, selama ada orang yang sms, mention ke twitter, email sampai telepon ke gue buat ngucapin terima kasih karena telah terhibur dan terinspirasi dengan apa yang gue tulis. Gue akan selalu senang :)


Ratusan atau bahkan ribuan cacian dan cibiran kalian tidak akan sebanding dengan kepuasan dan kesenangan para pembaca yang diapresiasikan pada buku gue :)
 
Tapi apa yang menjadi pembelajaran gue di masalah ini adalah, dengan adanya yang mencibir, gue lebih bisa bersikap sabar, gue malah lebih termotivasi untuk berbuat lebih banyak, terus berkarya. Kalau mereka bilang gue bangga cuma punya buku indie, gue buktikan tahun ini buku kedua gue, kompilasi cerita backpacker bakalan terbit di GRAMEDIA. Kalau masih mencibir juga karena itu "cuma" buku kompilasi? Tenang sodarah-sodarah, semua perlu proses, dan buku ketiga gue nanti, gue janji bakalan nampang di book store seluruh Indonesia, dengan nama gue terpampang besar di cover depannya !

Dipuji atau dicaci, akan berkarya sampai mati. - Valliant Budi

Whatever I'm Backpacker: Catatan Koplak Petualang Sarap

Taraaaaaaaaaa~

Akhirnya buku gue ada yang nge-review juga, dan orang yang beruntung untuk nge-review itu adalah Lalu Abdul Fataaaaaaaaah~ #Horee #TepukTangan #GebrakMeja #ToyorSBY

Ok.. ehem.. Jadi tanpa basa basi, mari kita simak review-an keceh dari temen gue ini..


Judul          : Whatever I'm Backpacker
Penulis        : Mochamad Takdis
Penerbit     : Mochamad Takdis Publishing
Cetakan     : Pertama, Mei 2012
Tebal         : 172 hlm.

    Oke. Ini buku traveling. Campuran antara travelogue dan travel guide. Tapi, gaya penulisannya tergolong absurd. Kadang, antara fakta dan khayalan dicampur. Mana serius, mana candaan, kadang tak bisa dibedakan. Butuh kecerdasan khusus untuk membaca buku yang narasinya kocak ini. Kalau selera humor Anda kering, disarankan untuk jauh-jauh dari buku ini. Lebih penting lagi, buku ini tidak cocok untuk yang berusia di bawah 17 tahun!

    Baru kali ini saya membaca buku traveling yang ditulis a la Kambing Jantan. Maaf, mau tidak mau saya membandingkan Whatever I'm Backpacker ini dengan buku yang ditulis oleh Raditya Dika tersebut. Sama-sama diangkat dari blog dengan humor yang agak kasar - menurut saya. Andai Si Radit suka menuliskan perjalanannya, mungkin buku ini jadinya.

    Cerdasnya Si Adis adalah ia melihat ceruk momentum buku-buku traveling yang lagi hip di pasaran. Ia terbitkan buku ini lewat jalur indie. Alasannya, idealisme. Bagi saya, sebuah idealisme agar content bukunya tidak banyak dirombak penerbit. Itu kalau bercermin dari buku The Naked Traveler 3 yang sempat ditarik dari pasaran. Andai ia mau bersabar, bisa saja ia menyodorkan buku ini ke Gagas Media, yang seleranya anak muda banget.

    Itu kalau penulis bersabar main di jalur penerbit mayor.

    Bagaimana dengan keputusannya menerbitkan indie? Buku besutan 9 Lights Production ini, boleh saya acungi jempol dari segi kaver. Komikal. Unyu, kalau istilah ABG labil. Kendati kurang kuat kalau dikaitkan dengan judulnya yang bermakna 'semau gue dong jadi backpacker'. Apalagi dengan warna dasar yang tergolong kalem dan rada-rada vintage.

    Di kaver belakang, pembaca akan disuguhi lima endorsements. Komentar mereka rata-rata saya setujui. Intinya sih, tulisan Adis yang liar, meledak-ledak, khas anak muda.

    Isinya, bagaimana? Beberapa ilustrasi di dalamnya berwarna. Saya duga, itu ditangani oleh Mbak Rana (ninelights.multiply.com). Foto-foto traveling penulis ada yang diselipkan satu foto utuh dalam mode black and white, ada pula yang disusun mozaik di tiga halaman berbeda dan itu berwarna. Mantap!

    Sayang, kualitas cetakannya perlu diperbaiki. Entah tintanya yang terlalu kuat atau kertasnya yang tipis, tulisan di halaman baliknya agak membayang di halaman muka. Foto hitam putihnya juga tidak begitu bagus. Masih ada bercak-bercak. Ukuran hurufnya agak kecil, tapi bukan masalah buat saya. Kendati, saya tetap berharap kalau dicetak ulang atau bahkan diterbitkan oleh penerbit mayor, ukuran huruf dan spasinya agak dibikin besar dan lebar biar lega di mata. Buku lo bisa lebih tebal jadinya, Dis! :)

    Oya, halaman 112 di buku yang saya dapatkan langsung dari penulisnya ini, tidak tercetak apa-apa alias kosong. Padahal ceritanya belum kelar. Belum lagi di halaman 113 yang tiba-tiba ukuran hurufnya berubah jadi lebih kecil, kendati isinya cuma post scirpt aja alias P.S. Kesalahan mesin cetaknya ya?

    Bagaimana dengan penyuntingan? Kalau tidak salah, buku ini disunting oleh Mbak Desi (malambulanbiru.multiply.com). Beberapa ejaan ada yang masih missed. Misalnya, pemakaian bahasa asing yang merujuk suatu tempat. Kalau 'Amazing Kalimantan' atau 'Cheap Trip To Singapore and Malaysia', saya masih terima. Tapi, tidak terima saat ada tertulis 'Yeah, that's Derawan Island'. Nama pulau ikut dimiringkan? Belum pula judul besar di bab 'The Exoticm of South Thailand'. Kata 'exoticm' tidak saya temukan di kamus. Yang benar 'exoticism'. Beberapa kesalahan eja juga perlu diperhatikan.

    Inkonsistensi juga saya temukan pada pemakaian istilah 'backpacker­-an'. Paling banyak, Adis menggunakan istilah ini. Beberapa pula saya temukan istilah 'backpacking'. Mengapa tidak 'backpacking' sekalian dari awal sampai akhir? Karena ini lebih menunjukkan aktivitas sebagaimana yang dimaksud Adis dalam konteks kalimat. Backpacker kan orangnya.

    Itu beberapa masukan saya dari segi teknis. Dan, hal ini tentu bisa diperbaiki di cetakan berikutnya.

    Bagaimana dengan kisah-kisah yang tertuang di buku ini?

    Adis ini gila! Pengalamannya (atau tulisannya?) kocak. Saya kira dua-duanya. Ia menceritakan hal-hal yang membuat pembaca akan melahap buku ini dengan cepat. Alias, tulisannya ringan. Hal-hal remeh sampai penting (berupa informasi rute, makanan, penginapan, transportasi, beserta harga-harga) ia tulis.

    Di buku ini, ia menceritakan pengalamannya ke Thailand, Singapura, Malaysia, Sawarna, Kalimantan, Bali, juga sedikit teaser perjalanan cintanya bersama pacar ke negara-negara Asia Tenggara. Semua dilakukan dengan backpacking alias murah meriah sekaligus cerdik.

    Penulisnya juga iseng, agak koplak, dan beberapa tindakannya cenderung kriminal. Entahlah, ini mungkin kecerdikan yang ia salahgunakan. Semisal, ia ingin internetan gratis via WiFi. Ia pura-pura mau check in di sebuah hotel, minta password WiFi pada resepsionis, lalu dengan enaknya keluar hotel dengan alasan jemput teman padahal ia tidak balik-balik lagi. Modus yang sama ia lakukan kala minta password WiFi di restoran di Phi Phi Island, Thailand. Koplak, bukan?

    Pengalaman lainnya saat ketinggalan pesawat menuju Vietnam gara-gara supir travel yang ia pakai dari Bandung sering ngetem. Tapi, gara-gara ini pula ia melenceng jauh blusukan ke Borneo di hari yang sama. Kok, bisa? Bisa saja. Karena Adis mengaku smart traveler. Haha...

    Belum lagi kegilaannya di Sawarna, Banten, bareng teman-temannya yang teler di pantai gara-gara mushroom alias jamur racun tai kebo. Ah, sarap!!!

    Tapi, di balik kesarapannya, ia tetap mau berbaik hati membagi tips dan trik yang menurut saya bisa banget dicoba. Kayak, bagaimana tidur di bandara, bagaimana memilih rekan seperjalanan, juga mengatur anggaran.

    Perjalanan penulis berusia 22 tahun ini jadi terlihat berbeda karena memang ia menuliskannya dengan sungguh liar. Humornya sedikit kasar dan kadang menjurus seksis. Cerminan Adis. Kendati ia mengaku kalau dalam tulisan, alter ego­-nya yang bercerita. Saya yang pernah bertemu dan ngobrol empat mata, melihatnya cenderung kalem dan tipe pendengar serta memiliki antusiasme yang tinggi.

    Penulis yang merupakan Petualang ACI 2011 Tim NTB 2 ini adalah 'mantan' mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Ia memilih hengkang dari bangku kuliah karena ingin mengejar passion­-nya, yaitu traveling! Keputusannya yang membuat dia galau ini tersingkap pula lewat buku yang dibanderol dengan harga Rp35 ribu ini.

  Ingin mengikuti petualangan koplak Si Adis yang terkadang kontemplatif ini? Hubungi saja penulisnya langsung.

by : @lafatah

keceh kan? keceh dong? keceh lah yah? keceh banget kan? IYA KAN !!?? NGAKU !!?? okeh, jadi tunggu apalagi. Buruan beli buku gue !!

Voila , Tarif Hotel Murah di Bandung !


Halo backpacker backpacker keceh~
 

Ini adalah penebusan dosa gue, gegara di bulan mei ini gue jarang banget nge-posting artikel. Sebenernya udah lama banget gue pengen posting tentang hotel-hotel murah di Bandung, yang secara ini adalah kota dimana gue tinggal. Backpacker gembel masa gak ngeinfoin tentang kotanya sih yah.

Nah, yang beda dari postingan kali ini adalah, gue comot tulisan dari blog temen gue si Ola, karena tulisan dan daftar hotel murah di Bandung yang dia punya lebih lengkap dan keceh. Karena gue backpacker dan blogger sopan, tentunya gue udah minta izin dulu ke si empu yang punya tulisan. Dan gue bakal sedikit memperkenalkan tentang temen gue ini :

"Yah, cewek nama lo siapa nih?"

Nama akoh Laura Hermawati~

"Kok sering dipanggil bule sih?"

Iyah, carena akoh blasceran Pangandaran Perancis!

"Oh,, Pantes ngomongnya muncrat-muncrat gitchu yach. Yaudah, boleh sebutin nama blog kamoh apa?"

Ini nih blog akoh --> http://thebeachlovesme.blogspot.com :)

"Jarang update blog yah? tulisannya masih dikit banget tuh #pffftt"

Yaudah deh, langsung aja simak tulisan si Ola ini tentang Hotel Murah di Bandung~
Bandung memang super ! Sebagai kota besar, Bandung menyajikan berbagai macam atraksi wisata , diantaranya wilayah pegunungan yang sejuk, wahana permainan (kampung gajah, trans studio, BCL, dll) , cafe-cafe yang memiliki atmosphere khas, dan masih banyak lagi. Tidak heran banyak orang yang tertarik untuk berwisata ke kota Bandung, mencicipi jajanan Bandung, mencicipi mojang bandung, eh.


Berdasarkan seringnya sms masuk yang nanya " La, hotel di Bandung yang murah dimana ya? Kalau bisa dibawah 200" di mbah mu, gratis. Baiklah, saya dengan senang hati akan berbagi info mengenai hotel murah di Bandung, Voila..teka-teki hidup wisatawan kere (atau smart? ) akan terpecahkan.

Daftar Hotel Murah Bandung :

Hotel Nirmala
Hotel Nirmala Bandung,Cipaganti Rp.180.000 
terletak di jalan Cipaganti Bandung (Sebelah sop buntut dahapati)
Harga paling rendah Rp. 180.000
Tempatnya bersih, nyaman, di daerah yang mudah di capai oleh kendaraan umum (angkot) plus harga sudah termasuk breakfast , fasilitas : air panas, sabun, Tv (menurut saya AC tidak terlalu diperlukan , mengingat cipaganti merupakan daerah dengan suhu yang cukup nyaman)
Tlp. (022) 2031318

Rumah Ebo
Rumah Ebo, Bandung

Rumah Ebo, Bandung
Terletak di Jln. imam bonjol no. 27, Bandung
Tlp. (022) 2533773
harga dimulai dari :
Rp. 103.000 / 172.000 (weekday/weekend) - Single Bed
Rp. 212.000 / 258.000 - Standard no bathroom
Rp. 253.000 / 410.000 - Standard with AC 
Rp. 483.000 / 540.000 - Family Room
Look at the Garden ! so fresh.. we can have breakfast right on the garden :)

Hostel By Moritz
Hostel by Moritz
Hostel satu ini adalah andalan para Backpacker, terletak dekat dengan Pasar baru, rumah sakit international Sentosa, dan tidak jauh dari stasiun Bandung.
Harga sekitar Rp. 65.000 - Rp. 80.000
Alamat :Jln. Kebon jati no. 41

Hotel Patradissa
Hotel Patradissa, Bandung
Hotel Patradissa terletak sangat dekat dengan Stasiun Bandung
Jln. mochamad Iskat 8 Bandung
Harga dimulai dari Rp. 150.000 
Tlp. (022) 4206680 W

Wisma Gandapura 
Wisma Gandapura, Bandung
Harga Mulai Rp. 175.000 
Lokasi dekat dengan pusat factory outlet, Riau 
Alamat : Jln. Laks L RE Martadinata 120 Bandung Tlp. (022) 4233991 / (022) 7231201


Wisma Pendawa

wisma pendawa, Bandung
Hotel yang satu ini cocok untuk Group yang bepergian
dengan harga Rp, 150.000 kamar berisi 4 bed
fasilitas : tv, kamar mandi, shower
Alamat : jln. Ciumbuleuit no. 197 ( dekat dengan kampus Unpar)
Tlp. (022) 2031437


Hotel Baltika Bandung
Hotel Baltika Bandung

Alamat : Jln. Jend . Gatot Subroto No.30 Karees, Bandung - 40262 
Tlp: (022) 7313331
Harga : Standard Room : Rp. 180.000
            Family Room    : Rp. 215.000

Dago Inn
Dago Inn , Bandung
Untuk hotel ini aga sedikit unik, dengan harga yang sangat rendah tp dengan kualitas yang baik, Dago Inn menyajikan hotel low budget, namun hotel ini hanya khusus untuk kaum hawa (perempuan)
Harga : Rp. 50.000
terletak di daerah yang strategis, dekat dengan Factory Outlet Dago
Booking : (022) 92270392

Hotel Kenangan

rate (weekday / weekend)
Economy room : Rp. 195.000 / 205.000
Standard           : Rp. 215.000 / 230.000
Deluxe              : Rp. 245.000 / 260.000
Alamat              : Jln. Kebon Sirih no. 4, Bandung (dekat dengan stasiun, dan Bandung Indah Plaza)

Hotel Bukit Dago
Hotel Bukit Dago, Bandung

Alamat : Jalan Ir H Juanda No.311 Bandung
Tlp . (022) 2500376
Harga dimulai dari Rp. 130.000

Hotel Abang Ciwidey


Jl. Raya Ciwidey Patenggang KM.500 Telp. (022) 5928235 fax. (022) 5928429

Hotel Abang Ciwidey adalah hotel yang paling cocok bila anda berpergian ke kawasan Bandung Selatan. Terletak di daerah yang sangat strategis, anda bisa menuju hotel ini dari alun-alun, jaraknya hanya 2 km saja dari sana. Untuk mencapai ke beberapa objek wisata di Ciwidey pun sangat dekat. Hanya 10 menit menuju Kawah Putih, Pemandian Air Panas Cimanggu, Ciwalini dan hamparan-hamparan kebun teh.

Pelayanan yang ramah dan helpful menjadi kelebihan dari hotel Abang Ciwidey ini. Mempunyai beberapa fasilitas, seperti : Meja Billiard, Lapangan parkir yang luas, Kolam pemancingan, Kamar yang luas, Air panas 24 jam, dan tentu saja hotel ini bersih, banget!

Rate harga :

Standar : 1 bed, TV, Kamar Mandi Air Panas, dll : Rp. 200.000,/hari
Deluxe   : 2 bed, TV, Kamar Mandi Air Panas, dll : Rp. 350.000/ hari
Super Deluxe  : 4 bed, TV, Kamar Mandi Air Panas, dll : Rp. 450.000/ hari

*)harga sewaktu-waktu dapat berubah.


Sekian Info beberapa hotel, penginapan murah, Hostel, Wisma di Kota Bandung. Semoga Bermanfaat. Untuk info lebih lanjut, saya dengan senang hati akan membantu. :)

catatan : Harga sewaktu-waktu bisa berubah, better kalian call dulu aja hotelnya yak :)

Nah, kalo gak mau ribet. Mending lo nyari lewat Agoda aja. Di sini banyak loh hotel murah, bahkan ada yang promo. Tinggal search tab agoda di sebelah kanan bawah blog ini yaw~

Selamat berlibur para backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker backpacker keceeeeeeeeeeeh~


Menginap di Bandara LCCT Kuala Lumpur




14 jam menjadi penunggu bandara tentu udah sangat cukup membuat gue hafal mati bandara ini. Yah, Bandara LCCT Kuala Lumpur adalah bandara kedua terbesar yang berada di Kuala Lumpur, mungkin juga Malaysia. Kepanjangan dari LCCT sendiri adalah Landasan Cecawat Cerbang Tokcer. #KemudianSebel

Dulu, waktu pertama kalinya gue ke Kuala Lumpur, gue turun di bandara KLIA (Kuala Lumpur International Airport) yang jauh lebih bagus dari LCCT. Namun sekarang kebanyakan penerbangan dari Indonesia menuju Malaysia, akan diberhentikan di bandara LCCT ini. Bandara yang cukup jauh dari pusat kota Kuala Lumpur, sekitar 1 jam lebih pakai bus dan 27 jam kalau lo nekat jalan kaki.

Gak usah bingung. Bandara ini emang gak segede KLIA dan gak serumit Changi Airport di Singapur, bahkan kalau gue pikir bandara ini lebih kaya terminal bus super besar !! Lahannya serba besar. Parkiran besar, smoking area besar, tempat tunggu besar dan mbak-mbak McD yang semuanya berbadan besar.

Namun, walaupun bandara ini besar, kalian jangan takut bakalan kesasar di bandara ini. Sebenarnya ada 6 point tempat saja di bandara LCCT ini, yaitu :

1. Pintu gerbang kedatangan domestik.
2. Pintu gerbang kepergian domestik.
3. Pintu gerbang kedatangan Internasional.
4. Pintu gerbang kepergian Internasional.
5. Terminal Bus ke berbagai penjuru Malaysia.
6. Cafetaria atau kantin.

Pas pertama nginjekin kaki di bandara ini, gue bingung mau naik bus atau numpang Siti Nurhalizah ke KL Sentral. Tapi karena gue waktu itu lagi bikin trip #MalayCepek, yaitu trip di Malaysia selama 3 hari yang gak akan ngeluarin uang lebih dari 100rebu, atau 33 RM. Maka berputarlah otak gue, daripada gue pakai bus ke KL Sentral yang harganya 8 RM gue lebih memilih untuk mencoba hitchiking. Dan ternyata hitchiking disini lumayan gampang sih menurut gue. Lo tinggal jalan ke arah pintu keluar, karena jalannya lurus terus, lo jalan  aja sambil lambai-lambaikan tangan minta tumpangan. Yah, tapi harus berani panas-panasan juga yak, soalnya suhu di kawasan bandara itu gersang gersang bikin merangsang !!

Jalan lurus terus buat hitchiking!

Selain ke KL Sentral, di terminal bus bandara juga ada shutter bus dan bus ke berbagai tujuan lainnya seperti Johor Bahru, Melaka, Penang, dll. Jadi gak usah takut gak bisa kemana-mana deh.

"Terus gimana kalau mau nginep di bandara LCCT nya, dis??"

Eittss.. Tenang sodarah-sodarah. Seperti apa yang gue bilang sebelumnya. Bandara LCCT ini besar tapi lenggang. Banyak banget spot yang bisa lo pakai buat tidur dan lenjeh-lenjeh sambil nunggu waktu keberangkatan.

Selain banyak spot tidur, bandara LCCT juga memiliki wifi gratis yang gue gak cobain cepet atau ngganya gegara waktu itu hape gue ilang di Kuala Lumpur #pfffttt

Fasilitas penunjang lainnya, bandara ini punya toilet yang terdapat disetiap bangunan, baik kedatangan maupun kepergian pesawat. Toiletnya pun bersih loh, bahkan ada juga shower room untuk kalian yang mau mandi di bandara. Cool !

Bagian luar LCCT

Untuk yang mau ngirit uang untuk beli minuman, bandara ini juga punya kran minum, tapi sejauh gue muter-muter bandara, gue cuma nemu satu doang kran buat minum, letaknya pun mojok banget. Tepatnya di gate kepergian Internasional, sebelah tempat wraping dan packing koper. Ciyan :'(

Nah, pembahasan terakhir adalah spot untuk tidur yang menyenangkan. Bandara LCCT punya banyak spot yang cukup nyaman untuk beristirahat, menurut gue. Untuk tidur dan istirahat sebentar, kalian bisa coba duduk-duduk cantik di kursi-kursi yang disediakan bandara. Spot yang paling tenang menurut gue adalah ruang tunggu keberangkatan domestik. Suasananya gak begitu crowded, juga letaknya dipojok bangunan membuat kualitas istirahat anda akan semakin keceh. Pret !!

Beda halnya kalau ternyata kalian pengen istirahat full, tidur berjam-jam. Kalian bisa coba spot diluar ruangan. Bandara LCCT ini akan sangat panas dan gersang pada siang hari, namun sangat adem pada malam hari. Terdapat kursi-kursi yang bisa disatukan dan tidak memiliki sandaran tangan dibagian luar bandara. Kalian bisa menggabungkan 6 kursi sekaligus buat tidur selonjoran.

Atau kalau takut tidur diluar, kalian bisa coba tidur di cafetaria atau kantin bandara. Bangunannya bersih dan gak panas. Sebelum tidur kalian juga bisa makan-makan ganteng di kantin yang harganya jauh lebih murah daripada restoran atau kedai yang berada didalam bangunan bandara. Cheers !!

AKHIRNYA !! Whatever I'm Backpacker Menjadi Buku !!


 
"Gabungan antara gemeter dan pengen nangis, megang buku dengan nama kita sendiri sebagai penulisnya."

Itulah twit pertama gue saat pada akhirnya gue bisa merealisasikan mimpi gue. Punya buku sendiri !! Whatever I'm Backpacker yang cuma kalian bisa baca di blog, akhirnya berpindah media. Akhirnya, tulisan-tulisan gue di blog bisa kalian baca di buku, guys !! Yups !! Whatever I'm Backpacker sudah menjelma menjadi seonggok buku keceh yang siap lo baca. Tentu dengan membelinya terlebih dahulu. MUAHAHAHA :))

Ok, agar lebih berasa susahnya bikin buku ini. Gue kasih tahu sejarah singkat tentang buku gue ini..

Beberapa waktu lalu, dipostingan gue sebelumnya (bisa baca disini nih --> Hasil dari sebuah passion), gue pernah cerita tentang awal mula gue bikin buku ini. Dari yang nyicil tulisan sedikit-sedikit, sampai akhirnya gue memberanikan diri untuk menjadikan tulisan gue ini menjadi sebuah benda yang disebut buku !!

Seharusnya buku ini udah jadi 2 minggu yang lalu. Tapi karena salah cetak dan gue berantem sama tukang cetaknya, akhirnya semua harus mulai dari awal lagi. Gue cetak dari nol lagi.

Satu tahun, waktu yang gue butuhkan untuk membuat buku ini. SATU TAHUN !! Jangan tanya perjuangan apa saja yang udah gue lakuin buat wujudin buku ini. Cukup dengan membacanya saja..

Berikut beberapa testimonial dari para endorser buku gue:

"Ringan tapi informatif. Penting buat yang pengen liburan tapi ogah jadi turis bingung!" - Ernest Prakasa (stand up comedian) @ernestprakasa

"Baca buku ini bikin gue ngerasa ikutan bertualang gila bareng adis didalemnya.. haha koplak bgt dan tips-tipsnya mudah dicerna dan dicerca #eh .. pokonya abis baca ini gw langsung berburu tiket murah jadinya .. wanna join?" - Milly Ratudian (arsitek, bentar lagi jadi artis #ngarep | "THE SUGAR BABE"  alias cewe SUka GARing) @millyshafiq

"Iri. Setelah membaca buku ini, satu hal yang menyelimuti saya adalah iri. Iri mengapa saya tidak seberani Adis. Iri mengapa saya tidak seliar Adis. Iri mengapa saya tidak senekat Adis. Dan iri mengapa saya tidak bepergian sebanyak Adis. Buku ini menggambarkan petualangan seru seorang cowok gila yang mengajak pembacanya untuk ikut seru-seruan dan menggila bersama di perjalanan yang brutal dan penuh warna. Tertarik mengikuti jejak Adis menjadi backpaker gila? Kamu wajib baca buku ini ;-)" - Haqi Achmad (Pencerita, penulis skenario Poconggg Juga Pocong the movie) @haqiachmad

"Tulisannya adalah representasi sosok Adis. Anak muda yang meledak-ledak, antusiasme tinggi dan traveling adalah passionnya. Tulisannya lugas khas anak muda dan membawa kita ke petualangan ala backpacker. Well said, Dis!" - Ariyanto (travel writer) @ariysoc

"Hanya sedikit penulis muda seperti Adis yang mampu menuliskan pengalaman jalan-jalannya dengan kemasan komedi yang khas, meledak-ledak. Namun juga cerdik untuk diam-diam membuat kita merenung ditiap kenekatan dan kegilaan masa mudanya. Saya berani bilang Adis salah satu penulis berbakat di generasinya. Salut!" - Andrei Budiman (penulis buku best seller Travellous) @travellous


My book is for you..

"Ini buku lo dis ??"

Yaiyahlaaah~ Masa bukunya SBY.. Ini buku yang gue tulis sendiri hehe..

"Penampakan bukunya mana ??"

 ini nih penampakan bukunya,,



"Judulnya apa broh? Terus isinya tentang apaan ??"

Pertanyaan yang keceh !! Buku gue ini berjudul sama dengan blog gue, yaitu "Whatever I'm Backpacker" Isinya tentang cerita backpackier-an gue di Singapur, Malaysia, Thailand, Bali, Kalimantan Timur, Pulau Derawan dan lain-lain. Di buku ini juga, gue sharing tips dan trik untuk yang mau jadi Backpacker keceh semacam gue. Hahaha

"Loh, bukannya buku tentang perjalanan lo keliling Asia bareng pacar itu yah??"

BUKAAAAAN !! Itu gue bikin nanti di buku kedua. Dan kenapa gue nulis buku yang pertama ini tanpa ada cerita gue tentang keliling Asia Tenggara itu? Soalnya di buku pertama gue ini, lebih mengisahkan tentang destinasi-destinasi yang cocok sekali sebagai destinasi pertama untuk para backpacker newbie. Maka dari itu juga gue selipkan tips dan trik-nya. :)

"Lah, itu bukannya udah ada di blog lo ini yah, dis??"

Yups !! Sebagian besar cerita udah pernah gue posting di blog ini, tapi yang membedakan adalah, di buku gue ini, gue menceritakannya lebih jelas dan detail. EYD nya pun baik dan enak dibaca. Ceritanya lebih gue kembangkan lagi daripada tulisan di blog yang asal-asalan aja hehe..

"Harganya berapa juta, dis ??"

Tenang, gak ampe jutaan kok. cuma Rp. 35.000,- sajaaaah~ (Diluar ongkos kirim tapi yah)

"Gue bisa beli di toko buku gak, dis ?? Semacam di Gramedia, Gunung Agung atau KFC ??"

#heningsebentar #pfffft..

Buku gue ini buku indie guys, jadi, lo cuma bisa beli di gue langsung atau ngga lewat online, nanti gue kirim pake TIKI atau gak awan kinton~

"Ooh gitu dis.. jadi menurut ngana, gue harus gimana buat bisa beli buku ngana?"

Kok jadi orang Ambon sih :|

Okeh, jadi gini guys, lo bisa beli buku gue yang limited edition ini lewat online. Ada beberapa cara yang bakal gue bikin supaya mempermudah lo buat beli buku gue, yaitu ;

  1. Kirim email ke [email protected]
  2. Tulis dengan subject : BUKU
  3. Tulis alamat tujuan pengiriman buku, selengkap-lengkapnya. (Beserta jumlah buku yang dipesan)
  4. Untuk ongkos kirim, silahkan cek ke situs JNE disini : http://www.jne.co.id/  Terus, lakukan pembayarannya. (Harga buku + Ongkos kirim)
  5. Setelah selesai, silahkan konfirmasi pembayarannya ke gue. Bisa lewat twitter gue di @takdos atau gak langsung komen dipostingan ini. Atau gak juga, bisa SMS ke nomer gue di 085624112227 (kalo ada pulsa gue bales, kalo ga ada yah mending ke twitter aja yah)
"Pembayarannya gimana, dis ??"

Pembayaran bisa langsung dikirimkan melalui rekening BCA gue :
1571.3666.44 atas nama Mochamad Takdis

Atau, ke rekening Bank Mandiri :
157.00.0133414.4 atas nama Veby Melisa

"Gue gak mau ribet dis, cara gampangnya aja gimana deh ??"

OKEH PEMIRSAH !! Bisa langsung mention gue aja ke @takdos atau gak SMS aja, nanti gue yang urus. Kagak usah lewat email-email-an deh yah !! #okesip 

Atau mau lebih gampang lagi, COD-an aja deh, langsung ketemu sama gue di Bandung yah..

 "Terakhir nih pertanyaan dari gue, dis?? Gue kudu beli ga yah??"

BELI DONG SEMPAK !! #pfttttt


Selamat Membeli dan Membaca, guys.. ciuuuuuuuuum :****